Kamis, 18 Desember 2014

Tanda-Tanda Kemunculan Imam Mahdi

mujahidin islam 
Para ulama membagi Tanda-tanda Akhir Zaman menjadi dua. Ada Tanda-tanda Kecil dan ada Tanda-tanda Besar Akhir Zaman. Tanda-tanda Kecil jumlahnya sangat banyak dan datang terlebih dahulu. Sedangkan Tanda-tanda Besar datang kemudian jumlahnya ada sepuluh. Alhamdulillah, Allah sayang sama umat manusia. Sehingga Allah datangkan tanda-tanda kecil dalam jumlah banyak sebelum datangnya tanda-tanda besar. Dengan demikian manusia diberi kesempatan cukup lama untuk merenung dan bertaubat sebelum tanda-tanda besar berdatangan.
Banyak pendapat mengatakan bahwa kondisi dunia dewasa ini berada di ambang datangnya tanda-tanda besar Kiamat. Karena di masa kita hidup dewasa ini sudah sedemikian banyak tanda-tanda kecil yang bermunculan. Praktis hampir seluruh tanda-tanda kecil kiamat yang disebutkan oleh Nabishollallahu ’alaih wa sallamsudah muncul semua di zaman kita. Maka kedatangan tanda-tanda besar tersebut hanya masalah waktu. Tanda besar pertama yang bakal datang ialah keluarnya Dajjal. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa sebelum munculnya Dajjal harus datang terlebih dahulu Tanda Penghubung antara tanda-tanda kecil kiamat dengan tanda-tanda besarnya. Tanda Penghubung dimaksud ialah diutusnya Imam Mahdi ke muka bumi.

Dalam sebuah hadits Nabishollallahu ’alaih wa sallammengisyaratkan bahwa Imam Mahdi pasti datang di akhir zaman. Ia akan memimpin ummat Islam keluar dari kegelapan kezaliman dan kesewenang-wenangan menuju cahaya keadilan dan kejujuran yang menerangi dunia seluruhnya. Ia akan menghantarkan kita meninggalkan babak keempat era para penguasa diktator yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya dewasa ini menuju babak kelima yaitu tegaknya kembali kekhalifahan Islam yang mengikuti manhaj, sistem atau metode Kenabian.

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ
رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي
يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا
“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435)

Lelaki keturunan Nabi Muhammadshollallahu ’alaih wa sallamtersebut adalah Imam Mahdi. Ia akan diizinkan Allah untuk merubah keadaan dunia yang penuh kezaliman dan penganiayaan menjadi penuh kejujuran dan keadilan. Subhanallah…! Beliau tentunya tidak akan mengajak ummat Islam berpindah babak melalui perjalanan tenang dan senang laksana melewati taman-taman bunga indah atau melalui meja perundingan dengan penguasa zalim dewasa ini apalagi dengan mengandalkan sekedar ”permainan kotak suara”..! Imam Mahdi akan mengantarkan ummat Islam menuju babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah melalui jalan yang telah ditempuh Nabi Muhammadshollallahu ’alaih wa sallamdan para sahabatnya, yaitu melalui al-jihad fi sabilillah.

Imam Mahdi akan berperan sebagai panglima perang ummat Islam di akhir zaman. Beliau akan mengajak ummat Islam untuk memerangi para Mulkan Jabriyyan (Para Penguasa Diktator) yang telah lama bercokol di berbagai negeri-negeri di dunia menjalankan kekuasaan dengan ideologi penghambaan manusia kepada sesama manusia. Bila Allah mengizinkan Imam Mahdi untuk menang dalam berbagai perang yang dipimpinnya, maka pada akhirnya ia akan memimpin dengan pola kepemimpinan berideologi aqidah Tauhid, yaitu penghambaan manusia kepada Allah semata. Banyak ghazawat (perang) akan dipimpin Imam Mahdi. Dan –subhaanallah- Allah akan senantiasa menjanjikan kemenangan baginya.
تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ
ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ
“Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal,dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)

Lalu apa sajakah indikasi kedatangan Imam Mahdi? Dalam sebuah hadits Nabishollallahu ’alaih wa sallammemberikan gambaran umum indikasi kedatangan Imam Mahdi. Ia akan diutus ke muka bumi bilamana perselisihan antar-manusia telah menggejala hebat dan banyak gempa-gempa terjadi. Dan kedua fenomena sosial dan fenomena alam ini telah menjadi semarak di berbagai negeri dewasa ini.
أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ
وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا
“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898)

Hadits berikut ini bahkan memberikan kita gambaran bahwa kedatangan Imam Mahdi akan disertai tiga peristiwa penting. Pertama,perselisihan berkepanjangan sesudah kematianseorang pemimpin. Kedua, dibai’atnya seorang lelaki (Imam Mahdi) secara paksa di depan Ka’bah. Ketiga, terbenamnya pasukan yang ditugaskan untuk menangkap Imam Mahdi dan orang-orang yang berbai’at kepadanya. Allah benamkan seluruh pasukan itu kecuali disisakan satu atau dua orang untuk melaporkan kepada penguasa zalim yang memberikan mereka perintah untuk menangkap Imam Mahdi.

يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِنَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ
وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ
“Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu datanglah kepada lelaki ini beberapa orang dari penduduk Mekkah, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.” (HR Abu Dawud 3737)

Saudaraku, sebagian pengamat tanda-tanda akhir zaman beranggapan bahwa indikasi yang pertama telah terjadi, yaitu perselisihan dan kekacauan yang timbul sesudah wafatnya seorang pemimpin. Siapakah pemimpin yang telah wafat itu? Sebagian berspekulasi bahwa yang dimaksud adalah Saddam Husein. Karena semenjak kematiannya, negeri Irak berada dalam kekacauan berkepanjangan. Wallahua’lam bish-showwab. Bila analisa ini benar berarti dewasa ini kita sudah harus bersiap-siap untuk berlangsungnya pembai’atan paksa Imam Mahdi di depan Ka’bah.

Saudaraku, bila ketiga peristiwa di atas telah terjadi, berarti Ummat Islam di seluruh penjuru dunia menjadi tahu bahwa Imam Mahdi telah datang diutus ke muka bumi. Panglima ummat Islam di Akhir Zaman telah hadir.. . Dan bila ini telah menjadi jelas kitapun terikat dengan pesan Nabishollallahu ’alaih wa sallamsebagai berikut:
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud 4074)
Ya Allah, izinkanlah kami bergabung dengan pasukan Imam Mahdi. Ya Allah anugerahkanlah kami rezeki untuk berjihad di jalanMu bersama Imam Mahdi lalu memperoleh salah satu dari dua kebaikan: ’isy kariman (hidup mulia di bawah naungan syariat Allah) atau mut syahidan (mati syahid). Amin…
»»  READMORE...

Kamis, 11 Desember 2014

Balikpapan, Pertempuran Akbar Penutup Perang Dunia Kedua

Di kota inilah pasukan Sekutu melancarkan pertempuran besar-besaran yang terakhir di darat selama Perang Dunia Kedua--dan nyaris terlupakan.

Balikpapan, Pertempuran Akbar Penutup Perang Dunia KeduaTugu Australia. Sebuah monumen yang mengenang Penyerbuan Balikpapan oleh pasukan Divisi Ketujuh Australia pada 1 Juli 1945 hingga menyerahnya Jepang pada 14 Agustus 1945. Penanda zaman ini berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Balikpapan, Kalimantan Timur. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Ini sebuah kisah lawas tentang tugu kusam dengan lukisan pedang hitam di puncaknya. Cat putih di sekujur dindingnya telah mengelupas sempurna. Meskipun tugu kusam itu terpancang membelah jalanan, tampaknya sedikit warga yang menaruh kepedulian. Sosoknya benar-benar ibarat wajah renta yang memelas di keramaian Kota Balikpapan yang panas.
Lukisan pedang bercat hitam itu mengingatkan sebagian orang pada Monumen Salib Pengorbanan di permakaman serdadu persemakmuran Inggris korban Perang Dunia. Dan, tugu tersebut didirikan bertujuan untuk mengenang serdadu Australia—persemakmuran Inggris—yang binasa dalam Pertempuran Balikpapan Juli 1945. Warga menjulukinya dengan “Tugu Australia”.
Pada awalnya, yang tertera bukanlah lukisan, melainkan pedang logam. Entah sejak kapan pedang tersebut raib dan diganti dengan sekedar lukisan pedang.
Balikpapan yang dikuasai Jepang sejak awal 1942, merupakan kota yang strategis lantaran menjadi pelabuhan minyak utama di Asia Timur. Selama Mei hingga Agustus 1945 pasukan Australia bertempur untuk membebaskan Pulau Borneo dari pendudukan Jepang yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun.
Plakat tembaga yang berkisah ...Plakat tembaga yang berkisah tentang Penyerbuan Divisi Ketujuh Australia ke Balikpapan yang saat itu diduduki Jepang. Penanda sejarah ini mengingatkan kita pada manusia yang tewas karena kengerian perang. Plakat ini dibangun berkat bantuan WMC Limited untuk menemani tugu. Seniman pengukirnya bernama Ross J. Bastian, dibuat pada 1998. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Peta Penyerbuan Balikpapan oleh ...Peta Penyerbuan Balikpapan oleh Divisi Ketujuh Australian Imperial Force pada Juli 1945. (Australian Survey Corps/Wikimedia)
 
Operasi Oboe-2, demikian sandi operasi militer Divisi Ketujuh Australia dalam penyerbuan ke Balikpapan yang bermula pada 1 Juli 1945. Mereka bersama serdadu Sekutu melakukan pendaratan dari pantai Balikpapan, yang bertujuan untuk mengamankan pengolahan minyak dan fasilitas pelabuhan.
Penyerbuan pantai tersebut berlanjut ke daratan, hingga Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu. Kecamuk pertempuran utama terjadi hingga pada 21 Juli 1945, kemudian dilanjutkan dengan pertempuran skala kecil di pelosok Balikpapan.
Di sisi depan Tugu Australia, terdapat plakat tembaga yang berkisah tentang kecamuk pertempuran yang heroik karya seniman bernama Ross J. Bastian, dibuat pada 1998. Plakat itu bertajuk “Balikpapan and Australia 1945” berikut dengan pemaparan dwi-bahasa, Indonesia dan Inggris.
“Dalam penyerbuan melalui laut yang direncanakan dan dikoordinasi dengan baik terhadap Tarakan, Teluk Brunei dan Balikpapan,” demikian plakat tersebut berkisah, “pasukan Australia menerjang dan mengalahkan pasukan Jepang yang siap siaga dan gigih bertahan.”
Pemandangan di sepanjang pantai ...Pemandangan di sepanjang pantai Balikpapan segera setelah pasukan dari Divisi Ketujuh dalam Operasi Oboe-2. DUKW dan Alligator amfibi tampak pada latar depan. Foto pada 1 Juli 1945. (Australian War Memorial)


Satu peleton infanteri didukung ...Satu peleton infanteri didukung oleh kendaraan lapis baja maju untuk menyapu Klandasan dari kuasa Jepang yang tersisa. Klandasan adalah pinggiran kota Balikpapan. Foto pada Juli 1945. (Jack Band/Australian War Memorial)
Jelang fajar 1 Juli 1945, Pasukan Australia melancarkan operasi amfibinya yang terbesar, gabungan kekuatan darat, laut, dan udara. Mereka menyerbu pantai di sebelah selatan kota Balikpapan. Sebanyak 33.000 serdadu Australia turut terlibat dalam operasi militer. Mereka menyerang daratan yang dipertahankan oleh sekitar 3.000 serdadu Jepang.
Kemudian dari pihak Sekutu (serdadu KNIL dan United States Army) meluncurkan pemboman  sehingga menghancurkan pertahanan pantai pihak Jepang. Tatkala senja Divisi Ketujuh berhasil meretas pertahanan musuh sejauh dua kilometer ke arah pedalaman. Meskipun mereka berhasil menguasai Kota Balikpapan pada keesokan harinya, kedua lapangan terbang di pantai timur baru ditaklukkan pada 9 Juli 1945.
Pertempuran di sisi utara dan sisi barat kota berlanjut selama lebih dari dua minggu. Sementara pasukan Jepang yang berada di parit perlindungan menahan setiap gerakan maju pasukan Australia.
Di tepian jalan, dua seorang ...Di tepian jalan, dua orang serdadu Australia membagikan biskuit tentara kepada warga setempat yang baru saja pulang dari pengungsian menuju ladang dan rumah mereka di pinggiran Balikpapan. Foto pada Juli 1945. (Australian War Memorial)
Divisi Ketujuh Australia ...Divisi Ketujuh Australia menangkap serdadu Jepang yang menjadi tawanan perang pada 1 Juli 1945. Mereka dibawa ke Balikpapan setelah menyeberang teluk. (Australian War Memorial)
salah satu bungker yang ...Salah satu bungker yang dibangun Jepang di sepanjang Pantai Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur. Banyak bungker tinggalan Perang Dunia Kedua yang tak terawat, bahkan sebagian telah dibongkar. Pertahanan pantai yang sekaligus tempat berlindung dari serangan udara ini lumpuh pada 1 Juli 1945 (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
 
“Penyerbuan Balikpapan merupakan operasi sekutu besar-besaran yang terakhir di darat selama Perang Dunia Kedua,” demikian plakat berkisah. “Dan, pertempuran itu baru selesai dengan berakhirnya perang pada tanggal 14 Agustus 1945.”
Untuk menaklukkan Jepang, pada awalnya armada Sekutu memiliki enam rencana operasi militer. Penyerbuan Tarakan (Oboe-1), penyerbuan Balikpapan (Oboe-2), penyerbuan Banjarmasin (Oboe 3), penyerbuan Surabaya atau Jakarta (Oboe-4), penyerbuan kawasan timur Indonesia (Oboe-5), dan penyerbuan ke Sabah (Oboe-6). Namun, pada akhirnya hanya tiga dari enam operasi militer tersebut yang terwujud: penyerbuan ke Tarakan, Balikpapan, dan Sabah.
Menurut Australian War Memorial, penyerbuan Balikpapan merupakan salah satu operasi Australia yang paling kontroversial selama Perang Dunia Kedua. Panglima pasukan Australia Jenderal Sir Thomas Blamey, sebenarnya justru menyarankan pemerintah untuk menarik dukungannya untuk Operasi Oboe-2.

Tampaknya Blamey melihat bahwa operasi Australia di Kalimantan tidak akan berhasil mengalahkan Jepang. Namun, Panglima Kawasan Barat Daya Pasifik Jenderal Douglas MacArthur yang telah merancang Operasi Oboe tetap bergerak ke Balikpapan.
Operasi Oboe-2 di Balikpapan merupakan serangan amfibi besar-besaran yang terakhir dalam Perang Dunia Kedua. Operasi militer ini juga menjadi ekspedisi terakhir bagi pasukan Australia dalam melawan Jepang.
Plakat tersebut juga mewartakan kengerian Operasi Oboe-2. Kecamuk di kota pelabuhan minyak itu telah membinasakan 229 serdadu Divisi Ketujuh Australia, dan 634 terluka. Sementara di pihak Jepang sejumlah 2.032 serdadunya binasa dan 63 lainnya menjadi tawanan perang.

Sebuah keluarga Jawa memandang ...Sebuah keluarga Jawa memandang tugu peringatan kepada serdadu Australian Imperial Force (AIF) yang tewas (kini disebut Tugu Australia). Keluarga itu baru saja dibebaskan dari sebuah kamp kerja paksa di Balikpapan. Foto pada 4 Januari 1946 (Lt.Prior/Australian War Memorial)
Film dokumenter berjudul "Allies Invade Balikpapan" yang mengisahkan tentang penyerbuan Australia bersama pasukan Sekutu ke Balikpapan Juli 1945 (National Archives and Records Administration)

Hingga saat ini, hubungan Republik Indonesia dan Australia memang mengalami pasang surut. Namun, plakat itu menorehkan sejuta kenangan karib bagi keduanya. “Sejak masa perang itu Indonesia dan Australia telah meningkatkan pertukaran di bidang kebudayaan pendidikan dan ekonomi,” ungkap plakat itu pada paragraf terakhirnya. “Kedua negara tersebut sekarang hidup dengan damai dan rakyatnya akan selalu mengingat mereka yang telah mengorbankan jiwanya untuk mencapai tujuan tersebut.”
Di baris paling akhir terdapat tiga kata yang menajdi himbauan kepada siapa saja untuk mengenang mereka yang tewas, “Lest We Forget”—jangan sampai kita lupa.
“Indonesia itu Terrabellica—wilayah perang,” ujar Saleh As’ad Djamhari, seorang sejarawan militer, purnawirawan, dan sekaligus pengajar di FIB Universitas Indonesia. Saleh pernah mengungkapkan bahwa setiap kali terjadi perang antara dua pihak, perang itu selalu terjadi di Indonesia—Portugis vs. Spanyol, Inggris vs. Belanda-Prancis, dan Australia vs. Jepang. Kendati terjadi di wilayah Nusantara, bangsa ini tidak berpartisipasi dalam pertempuran mereka.
“Orang Indonesia itu sebagai penonton perang yang baik,” ujarnya. “Sampai zaman Jepang, kita hanya menonton dan mendengarkan cerita.”

Pemandangan Kota Balikpapan ...Pemandangan Kota Balikpapan kala senja tenggelam. Sebuah kota tepian pantai yang tumbuh pesat sejak ditemukannya tambang minyak bumi pada 1897. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
»»  READMORE...

Kisah Penduduk Ailah, Kaum Bani Israa’iil yang Diubah Menjadi Kera-kera Karena Melanggar Hari Sabtu

Many_monkeys_by_EastMonkeyKisah ini Allah Ta’ala firmankan dalam kitabNya yang mulia. Allah Jalla Jalaaluh berfirman :
وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ. وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ. فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ. فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ
“Dan tanyakanlah kepada bani Israa’iil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasiq. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertaqwa.” Maka tatkala mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasiq. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, “Jadilah kamu kera yang hina!” [QS Al-A’raaf : 163-166]
FirmanNya :
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ. فَجَعَلْنَاهَا نَكَالا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ
“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!” Maka Kami jadikan yang demikian itu sebagai peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” [QS Al-Baqarah : 65-66]
Serta firmanNya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا
“Hai orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.” [QS An-Nisaa’ : 47]
Al-Imam Ibnu Jariir Ath-Thabariy dalam Tafsiir-nya[1], menyebutkan beberapa perbedaan pendapat mengenai tempat yang dimaksud dalam ayat-ayat diatas. ‘Abdullaah bin Katsiir, Ismaa’iil As-Suddiy, ‘Ikrimah, Qataadah, Mujaahid, dan Ibnu ‘Abbaas berkata bahwa yang dimaksud adalah “Ailah”, Ibnu ‘Abbaas menambahkan “sebuah tempat yang berada diantara Madyan dan Ath-Thuur”. ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa yang dimaksud adalah “Maqnaa, berada diantara Madyan dan ‘Ainuunaa”. Ibnu ‘Abbaas dalam pendapatnya yang lain berkata bahwa yang dimaksud adalah “Madyan, sebuah desa yang berada diantara Ailah dan Ath-Thuur”.
Dari berbagai perbedaan pendapat tersebut, yang benar bahwa tempat yang dimaksud adalah sebuah desa atau negeri yang terletak di dekat laut, boleh jadi ia adalah Ailah, boleh jadi ia adalah Madyan, boleh jadi ia adalah Maqnaa, dikarenakan tempat-tempat tersebut berada di dekat laut dan tidak ada khabar dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk memutuskan perkara yang demikian, demikian kata Ibnu Jariir.
Al-Haafizh Ibnu Katsiir lebih menguatkan pendapat bahwasanya yang dimaksud adalah Ailah. Wallaahu a’lam.
Mereka, para penduduk Ailah tersebut, adalah orang-orang yang kokoh memegang ajaran Taurat dalam hal pengharaman hari Sabtu pada zaman tersebut. Pada hari Sabtu, ikan-ikan berenang dengan tenang di permukaan air dekat dengan tempat mereka, pada hari itu Allah mengharamkan perburuan ikan kepada mereka dan diharamkan pula semua aktivitas bekerja, perdagangan-perdagangan, dan usaha-usaha yang lain sebagaimana diharamkan berburu ikan di hari Sabtu.
Firman Allah Ta’ala :
وَيَوْمَ لا يَسْبِتُونَ لا تَأْتِيهِمْ
“Dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka.” Hal ini dikarenakan mereka biasa berburu ikan pada hari-hari selain hari Sabtu.
Firman Allah Ta’ala :
كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ
“Demikianlah Kami menguji mereka.” Yaitu Kami menguji mereka dengan banyaknya ikan-ikan pada hari Sabtu.
Firman Allah Ta’ala :
بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
“Disebabkan mereka berlaku fasiq.” Yaitu disebabkan kefasiqan mereka yang telah lampau. Ketika mereka mengetahui hal tersebut, mereka membuat semacam tipu muslihat agar mereka tetap dapat berburu ikan pada hari Sabtu yaitu dengan cara meletakkan jaring-jaring dan perangkap-perangkap ikan, lalu membuat parit-parit yang dapat dialiri air sehingga air itu membawa ikan-ikan tersebut masuk ke parit-parit yang sudah mereka persiapkan yang apabila ikan-ikan tersebut telah masuk, maka mereka tidak akan bisa keluar dari situ. Mereka melakukan ini pada hari Jum’at. Jika telah tiba hari Sabtu, banyaklah ikan-ikan yang tertangkap pada jaring-jaring, tiada satu ikan pun yang selamat di hari Sabtu itu. Orang-orang Yahudi mengambil ikan-ikan itu setelah hari Sabtu. Mereka telah melanggar perintah Allah, melanggar hal-hal yang diharamkan olehNya dengan melakukan tipu muslihat tersebut, maka Allah murka dan mengutuk mereka.
Ketika segolongan dari orang-orang durjana tersebut melakukan pelanggaran larangan dan berburu ikan di hari Sabtu, maka sebagian lainnya yang tidak melakukan pelanggaran itu terpecah menjadi dua golongan, golongan yang satu yang mana mereka mengingkari perbuatan tersebut dan tipu muslihat yang dilakukan, sedangkan golongan yang lain adalah mereka yang bersikap diam, tidak mengerjakan dan tidak pula dilarang tetapi mereka berkata kepada golongan yang melakukan pengingkaran terhadap perbuatan haram tersebut, seperti yang disebutkan dalam firmanNya :
لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا
“Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?” Maksudnya adalah, apa manfaatnya kalian melarang dan mengingkari mereka? Bukankah kalian telah mengetahui bahwa mereka akan binasa dan berhak mendapat hukuman Allah?
Maka golongan yang mengingkari perbuatan itu menjawabnya :
مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertaqwa.” Maksudnya, kami melakukan ini sebagai bentuk amar ma’ruuf nahi munkar kepada saudara-saudara kami, kami melakukan ini karena takut terhadap Rabb dan jika nanti kami ditanya oleh Rabb kami, maka kami sudah menunaikan kewajiban kami, yaitu memberitahukan kepada mereka bahwa mereka telah melakukan hal yang diharamkan Rabb kami. Kami berharap, dengan adanya pengingkaran ini mereka meninggalkan perbuatan tersebut dan Allah menyelamatkan mereka dari siksaNya dan menerima taubat mereka.
Firman Allah Ta’ala :
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ
“Maka tatkala mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat.” Maksudnya, orang-orang yang melanggar tersebut tidak menoleh sedikitpun kepada peringatan dari golongan yang mengingkari mereka, maka Allah Ta’ala selamatkan golongan yang melakukan amar ma’ruuf nahi munkar dari makar orang-orang jahat.
Dan firmanNya :
وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ. فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ
“Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasiq. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, “Jadilah kamu kera yang hina!”
Allah Ta’ala telah mengkhabarkan bahwa Dia telah membinasakan orang-orang yang zhalim dengan adzab yang keras dan menyelamatkan orang-orang beriman yang mengingkari perbuatan mereka. Dalam hal ini, Allah tidak menyebutkan nasib orang-orang yang bersikap tawaqquf terhadap kemungkaran orang-orang yang zhalim. Maka ada dua pendapat para ulama tafsir terkait hal ini. Sebagian mereka berpendapat bahwa golongan yang diam termasuk orang-orang yang diselamatkan Allah sementara yang lain berpendapat bahwa mereka termasuk orang-orang yang ikut dibinasakan Allah.
Pendapat yang shahih menurut para ulama muhaqqiq adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbaas, pemimpin para ahli tafsir Al-Qur’an, yaitu mereka (golongan yang tawaqquf tersebut) tidak digolongkan kepada orang-orang yang selamat sebab meskipun hati mereka tidak ridha terhadap perbuatan haram tersebut, hanya saja sepantasnya bagi golongan tersebut untuk melaksanakan amalan yang dianjurkan yaitu pengingkaran secara lisan, ini merupakan tingkatan nahi munkar yang paling tengah dari tiga tingkatan yang mana tingkatan yang paling tinggi adalah mengingkari dengan tangan, lalu mengingkari dengan lisan, dan yang terakhir mengingkari dengan hati. Ketika mereka bersikap tawaqquf, tidak berusaha untuk memberi peringatan, maka mereka tidak digolongkan kepada golongan orang-orang yang diselamatkan Allah Ta’ala.
Diriwayatkan Al-Imam Ibnu Jariir[2] dengan sanad hingga Al-Hasan bin ‘Athiyyah, dari Ayahnya (yaitu ‘Athiyyah Al-‘Aufiy), dari Ibnu ‘Abbaas, mengenai firman Allah, “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, “Jadilah kamu kera yang hina!”, Ibnu ‘Abbaas berkata :
فجعل الله منهم القردة والخنازير. فزعم أن شباب القوم صاروا قردة، وأن المشيخة صاروا خنازير
“Allah menjadikan mereka kera-kera dan babi-babi, maka ada yang menyatakan bahwa para pemuda kaum tersebut berubah menjadi kera-kera dan para orang tuanya berubah menjadi babi-babi.”
Al-Imam Ibnu Jariir[3] meriwayatkan dengan sanad hingga Sa’iid bin Abi ‘Aruubah, dari Qataadah, mengenai firman Allah, “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya,” Qataadah mengatakan :
لما مرد القوم على المعصية. قلنا لهم كونوا قردة خاسئين، فصاروا قردة لها أذناب تعاوى بعد ما كانوا رجالا ونساء
“Ketika kaum tersebut melampaui batas atas perbuatan maksiat mereka, (Allah berfirman) Kami katakan kepadanya, “Jadilah kamu kera yang hina!” Maka mereka berubah menjadi kera-kera yang memiliki ekor yang saling berkerumun setelah dahulunya mereka berwujud para lelaki dan wanita.”
Al-Imam Ibnu Abi Haatim[4] meriwayatkan dengan sanad hingga Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata :
إِذَا كَانَ الَّذِينَ اعْتَدَوْا فِي السَّبْتِ فَجُعِلُوا قِرَدَةً فَوَاقًا، ثُمَّ هَلَكُوا مَا كَانَ لِلْمَسْخِ نَسْلٌ
“Apabila orang-orang Yahudi yang melanggar di hari Sabtu, maka dijadikanlah mereka kera-kera yang nyata, kemudian mereka binasa, tidaklah mereka dapat berketurunan dengan perubahan wujud mereka itu.”
Dan diriwayatkan[5] dengan sanad hingga Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid :
فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ، قَالَ: مُسِخَتْ قُلُوبُهُمْ، وَلَمْ يُمْسَخُوا قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ، وَإِنَّمَا هُوَ مَثَلٌ ضَرَبَهُ اللَّهُ لَهُمْ، مِثْلَ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
Lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!” Mujaahid berkata, “Diubahlah hati-hati mereka dan bukanlah (jasad) mereka yang diubah menjadi kera-kera dan babi-babi. Sesungguhnya hal tersebut adalah perumpamaan Allah kepada mereka, bagaikan perumpamaan keledai yang membawa (beban berat) di sejumlah perjalanan.”
Pendapat Mujaahid ini adalah pendapat yang asing yang dinisbatkan kepada Al-Imam Mujaahid, menyelesihi teks Al-Qur’an dan pendapat para ulama dari kalangan salaf maupun khalaf.
Selesai. Semoga bermanfaat sebagai ibrah kita dalam hal amar ma’ruuf nahi munkar.
Wallaahu a’lam.
Diselesaikan di Ciputat, 27 Ramadhan 1435 H
Tommi Marsetio
Sumber :
“Al-Bidaayah wa An-Nihaayah”, karya Al-Haafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsiir, tahqiiq : Dr. ‘Abdullaah bin ‘Abdil Muhsin At-Turkiy, penerbit Daar Hijr, cetakan pertama.
Footnotes :
[1] Jaami’ul Bayaan ‘an Ta’wiili aay Al-Qur’an 10/507-509, tahqiiq : Dr. ‘Abdullaah bin ‘Abdil Muhsin At-Turkiy, Daar Hijr.
[2] Jaami’ul Bayaan 10/529, dengan sanad yang lemah. Al-Hasan bin ‘Athiyyah, Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 1256 melemahkannya. Sedangkan ‘Athiyyah Al-‘Aufiy, dikatakan oleh Al-Haafizh dalam At-Taqriib no. 4616, “shaduuq, banyak kelirunya, pengikut syi’ah dan mudallis.”
[3] Jaami’ul Bayaan 10/529, dengan sanad yang shahih. Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mu’aadz, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Yaziid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sa’iid, dari Qataadah, perkataannya.
Yaziid, ia adalah Yaziid bin Zurai’, kata Al-Haafizh ia tsiqah tsabt (At-Taqriib no. 7713). Sa’iid bin Abi ‘Aruubah, kata Al-Haafizh ia tsiqah haafizh, memiliki karya tulis namun banyak melakukan tadlis dan mengalami ikhtilath, orang paling tsabt pada Qataadah (At-Taqriib no. 2365).
Namun Yaziid bin Zurai’ mendengar dari Sa’iid sebelum ikhtilath-nya. Ahmad bin Hanbal berkata :
سماع يزيد بن زريع من سعيد قديم
“Penyimakan Yaziid bin Zurai’ dari Sa’iid adalah penyimakan yang terdahulu (sebelum ikhtilath).”
Dan Abu Ahmad bin ‘Adiy Al-Jurjaaniy berkata :
وأثبتهم فيه : يزيد بن زريع، وخالد بن الحارث، ويحيى بن سعيد القطان
“Dan mereka yang paling tsabt pada Sa’iid adalah : Yaziid bin Zurai’, Khaalid bin Al-Haarits, dan Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan.”
Lihat Al-Mukhtalithiin hal. 43 berikut ta’liiq dari muhaqqiq kitab.
[4] Tafsiir Ibni Abi Haatim no. 670, dengan sanad yang lemah. Ibnu Abi Najiih tidak mendengar tafsir dari Mujaahid. Yahyaa Al-Qaththaan berkata :
لم يسمع بن أبي نجيح من مجاهد التفسير كله يدور على القاسم بن أبي بزة
“Ibnu Abi Najiih tidak mendengar tafsir dari Mujaahid, semua riwayatnya bersumber pada Al-Qaasim bin Abi Bazah.” (Taariikhul Kabiir 5/233)
[5] Tafsiir Ibni Abi Haatim no. 672, dengan sanad yang lemah. Ibnu Abi Najiih tidak mendengar tafsir dari Mujaahid sebagaimana telah lalu penjelasannya.
* * * * *
Sumber muhandisun.wordpress.com
»»  READMORE...

Selasa, 25 November 2014

Codex Gigas : Alkitab iblis

Codex gigas atau buku raksasa adalah sebuah manuskrip abad pertengahan dengan ukuran terbesar yang masih ada. Buku ini ditulis pada awal abad ke-13 di biara ordo benediktus di podlazice di Bohemia. Saat ini buku tersebut tersimpan di Swedish Royal Library di Stockholm. Dibutuhkan tenaga dua pustakawan untuk mengangkat buku tersebut. Buku ini sering juga disebut “alkitab iblis” karena adanya sebuah ilustrasi ukuran besar bergambar setan didalamnya.


Kodeks tersebut ditaruh disebuah tempat yang terbuat dari kayu, dilapisi dengan kulit dan dihias dengan logam. Tingginya 92 cm, lebarnya 50 cm dan memiliki tebal 22 cm. Pada mulanya, kodeks itu memiliki 320 lembar naskah. Namun 8 lembar darinya dibuang. Tidak diketahui siapa yang membuang 8 lembar tersebut dan untuk tujuan apa. Ada dugaan 8 lembar yang dibuang kemungkinan berisi aturan-aturan biara ordo benediktus. Berat kodeks tersebut hampir mencapai 75 kg. Lembaran yang digunakan untuk menulis kodeks ini adalah kulit yang berasal dari 160 ekor anak sapi.

Biara tempat kodeks ini dibuat dihancurkan pada abad ke-15. Catatan yang ada pada kodeks menunjukkan bahwa pembuatan kodeks tersebut adalah sekitar tahun 1229 M. Setelah penulisannya, kodeks ini kemudian dipindahkan ke Biara Cistercians Sedlec dan akhirnya dibeli oleh Biara benediktus di Byoevnov. Dari tahun 1477-1593, kodeks ini disimpan di perpustakaan di Broumov sampai akhirnya dibawa ke Praha pada tahun 1594 untuk menjadi bagian dari koleksi Rudolf II. Pada tanggal 24 September 2007, Codex gigas dibawa kembali ke Praha setelah 359 tahun.

Isi dari kodeks ini adalah “a sum of the Benedictine order’s knowledge”, “The War of the jews” tulisan Josephus, daftar para orang kudus, metode untuk menentukan tanggal perayaan paskah, seluruh alkitab bahasa latin pre-vulgate, Isidore of Seville’s encyclopedia Etymologiae, Cosmas of Prague’s Chronicle of Bohemia, berbagai macam traktat (dari sejarah, etimologi dan fisiologi), sebuah kalender dengan nekrologium, daftar nama para biarawan di biara Podlaice, formula-formula ajaib dan catatan-catatan lain.

Seluruh isi kodeks ini ditulis dalam bahasa latin. Manuskrip ini juga dihiasi dengan warna-warna seperti merah, biru, kuning, hijau dan emas. Seluruh huruf besar diberi warna yang mencolok. Yang luar biasa adalah keseluruhan isi kodeks ini ditulis dengan relevansi yang luar biasa antar halaman. Yang berarti bahwa buku ini ditulis oleh satu orang dengan pikiran yang berkesinambungan. Hal ini membuat banyak ahli percaya bahwa keseluruhan kodeks ini ditulis dalam waktu yang sangat singkat.

Pada halaman 290, terdapat sebuah gambar Iblis dengan tinggi sekitar 50 cm. Beberapa halaman sebelum gambar ini ditulis pada lembaran kulit yang menghitam dan dibuat dengan karakter yang gelap, yang membuatnya berbeda dengan keseluruhan isi kodeks.

Menurut Legenda, penulis kodeks itu adalah seorang biarawan yang melanggar aturan biara dan dihukum dengan diikat di dinding dalam posisi berdiri seumur hidup. Biarawan ini memohon ampunan dari penghukuman yang luar biasa kejam itu. Sebagai gantinya ia berjanji untuk membuat sebuah buku yang akan memuliakan biara dan pengetahuan umat manusia selamanya, dan ia berjanji menyelesaikannya hanya dalam satu malam. Menjelang tengah malam, biarawan itu menjadi ragu apakah ia dapat menyelesaikannya sendiri. Jadi ia menjual jiwanya kepada iblis demi sebuah pertolongan. Iblis kemudian menyelesaikan manuskrip tersebut. Sebagai penghormatan kepada iblis yang membantunya, biarawan itu menambahkan gambar iblis ke dalam kodeks tersebut. Walaupun adanya legenda yang melibatkan iblis, pada zaman inkuisisi, kodeks ini tetap disimpan oleh biara dan dipelajari oleh banyak cendikiawan sampai hari ini.
»»  READMORE...

Vatikan dan Nazi

Sebuah bukti baru terungkap dalam Arsip rahasia Vatikan yang mengindikasikan bahwa Paus Pius XII (Sri Paus pada masa perang dunia kedua yang sebelumnya merupakan diplomat berpengaruh dari Vatikan bernama Eugenio Pacelli) mungkin secara tidak langsung telah berperan dalam kebangkitan Hitler.

Bukti ini merupakan hasil investigasi dari seorang pria bernama John Cornwell, yang mendapatkan akses ke dalam ruang arsip Vatikan dengan tujuan membebaskan sri paus sebelumnya itu dari tuduhan bersalah. Namun, Cornwell malah menemukan dirinya dalam semacam ‘ situasi keterkejutan moral’ dengan penemuannya, sehingga buku karyanya, Hitler’s Pope, menjadi sebuah karya yang sangat berbeda dari konsep awalnya.


Cornwell sebelumnya telah berusaha berhati-hati dengan argumen-argumen tertentu darinya, menghilangkan beberapa prasangka motif jahat yang sebelumnya ia anggap ditujukan pada sang Paus, dan menekankan pada kenyataan bahwa ia ‘tidak mungkin menghakimi’ Sri Paus ini atas aksi-aksi di masa perang ini. Sebaliknya, ia menekankan kenyataan bahwa di sisi lain Paus Pius telah menolong orang-orang Yahudi dengan mengatur sebuah deportasi di Hungaria yang menyelamatkan 800.000 nyawa. Pada saat yang sama, terdapat bukti-bukti yang sulit untuk diabaikan dan layak untuk diperiksa lebih jauh.

Bagian terbesar dari karya Cornwell berpusat pada tahun-tahun awal Pacelli ketika menjabat sebagai duta kepausan di Munich, sebuah jabatan yang dipangkunya dengan tujuan untuk membangun kembali kekuatan absolut Vatikan dalam sebuah bangsa yang selama lebih dari 400 tahun telah menikmati otonomi religius yang luar biasa. Pada saat inilah, dalam surat-suratnya kepada kardinal Sekretaris Negara Vatikan masa itu (antara tahun 1917 dan 1919), Pacelli mengungkapkan adanya permusuhan laten terhadap anggota-anggota kelompok yang menurutnya adalah ‘sebuah aliran Yahudi’, dan dilukiskan sebagai orang-orang yang pucat, kotor, bermata kosong, bersuara kasar, vulgar, menjijikan, dengan wajah yang pintar dan lihai.’ Secara tersirat pun sudah dapat dibayangkan bagaimana pandangan Pacelli terhadap orang-orang yahudi pada saat itu.

Diktator Dalam Vatikan

Setelah berkuasa pada tahun 1933, Hitler mengalihkan perhatian sepenuhnya pad penandatanganan perjanjian Reich Concordat dengan Pacelli, yang saat itu telah kembali ke Vatikan dan menjabat sebagai Kardinal Sekretaris Negara. Syarat-syarat yang disampaikan oleh sang diktator telah diperhitungkan untuk membatalkan oposisi Vatikan terhadap partai Nazi, dengan imbalan kemungkinan untuk dimasukannya hukum kanonik bagi warga Katolik Jerman. Pihak Vatikan telah mendorong Partai Pusat Katolik Jerman untuk menandatangani surat akta yang akan memberikan izin yang secara efektif membubarkan salah satu partai oposisi paling signifikan terhadap Reich Ketiga dan akhirnya memberi Hitler sebuah kekuatan diktatorial yang tidak terkendali.



Sebagai hasilnya, jutaan orang Katolik bergabung dalam partai Nazi karena percaya bahwa partai itu mendapat dukungan total dari Sri Paus sendiri. Sementara itu, Hitler secara terbuka memuji perjanjian ini sebagai ‘hal yang sangat signifikan’ dalam perjuangan melawan golongan Yahudi internasional’. Mulai saat inilah, semua kritik-kritik dari orang Katolik Jerman terhadap partai Nazi harus disalurkan melalui Vatikan, tetapi pada saat yang sama, tidak pernah terdengar atau terlihat tindakan dari Vatikan. Hal ini sebagian besar adalah akibat dari posisi keras kepala Pacelli sendiri.

Pada musim panas tahun 1938, saat Paus Pius XI terbaring sekarat, ia tiba-tiba menjadi resah memikirkan kebangkitan fasisme dan anti-Yahudi Eropa. Namun, tiba-tiba semuanya menjadi terlambat. Paus Pius XI tiba-tiba ditemukan telah wafat hanya beberapa jam sebelum ia membacakan pidatonya yang akan mengutuk fasisme yang diprakarsai Hitler.

Sementara itu, Pacelli terpilih menjadi Paus setelah tiga kali pemungutan suara dan dinobatkan menjadi Paus Pius XII pada tanggal 12 Maret 1939. Salah satu dari aksi-aksi perdananya adalah bertemu dengan otoritas Jerman dan memastikan dukungannya kepada partai Nazi. Pada bulan berikutnya, atas permintaan Pacelli, duta kepausan di Berlin menyelenggarakan sebuah gala resepsi untuk merayakan ulang tahun Hitler yang ke-50. Sementara itu, perang sudah di depan mata.

Perang dan Vatikan
Hitler menginvasi Polandia pada tanggal 1 September 1939. Meskipun pihak sekutu sangat terkejut, Paus Pius XII tidak berkomentar apapun. Ia menolak untuk mengutuk pihak Nazi bahkan saat perang meluas dan korban menggunung di kedua belah pihak, meskipun baru pada tahun 1942. Dan ketika dunia terbangun melihat kenyataan tentang Solusi Terakhir (perintah Hitler untuk pemusnahan Yahudi), kebisuan pihak kepausan menjadi sangat mengganggu.

Pada tanggal 16 Juni, surat kabar Inggris, Daily Telegraph, menerbitkan artikel di halaman depan tentang pemusnahan orang Yahudi. Kurang dari satu minggu kemudian, sebuah pawai besar dilakukan di lapangan Madison Square Gardens, New York menuntut dunia untuk campur tangan dalam krisis ini. Pada bulan September, Presiden Roosevelt mengirim perwakilan pribadi ke Vatikan dengan harapan dapat memicu reaksi Sri Paus, namun tindakan Roosevel ternyata sia-sia, Sri Paus tetap saja keras kepala. Pada saat itu hanya Vatikanlah yang benderanya berkibar di seantero dunia melewati samudera-samudera, sehingga sedikit saja anggukan dari Sri Paus saat itu akan memicu jutaan reaksi dari umat Katolik diseluruh dunia, dan jika itu terjadi, dunia akan bangkit untuk bersatu.


Yang terjadi justru hanya dalam pesan natalnya pada tahun yang sama, (seminggu setelah utusan dari Inggris untuk Vatikan secara pribadi menyerahkan satu berkas berisi dokumentasi tentang pemusnahan orang Yahudi dalam kamp-kamp konsentrasi yang tersebar di seluruh Eropa dengan jumlah yang cukup untuk meyakinkan Sri Paus), Paus Pius XII akhirnya mau berbicara. Namun, apa yang disampaikan begitu samar sehingga ia sepertinya tetap mempertahankan kebisuannya. Dalam pesan natal itu tidak disebutkan nama ‘Nazi’ atau ‘orang Yahudi’, hanya sebuah referensi samar tentang ‘ribuan orang’ telah dibunuh karena ‘kebangsaan atau rasnya.’

Bila pengutukan yang tidak jelas itu menandai sebuah perubahan dalam kebijakan terhadap Nazi, maka hal itu kurang signifikan untuk mampu menyelamatkan jutaan orang Yahudi yang dikumpulkan di jalan-jalan kota Roma oleh para serdadu SS, tepat di depan mata Sri Paus, kurang dari setahun kemudian. Dari mereka yang diasingkan, hampir semuanya terbunuh.
»»  READMORE...

Sabtu, 15 November 2014

MUKJIZAT AL – QURAN TERUNGKAP : Ada Kobaran Api di Dasar Laut


  
Sebuah fenomena retakan di dasar lautan yang mengeluarkan lava, dan lava ini menyebabkan air mendidih hingga suhunya lebih dari seribu derajat Celcius. Meskipun suhu lava tersebut luar biasa tingginya, ia tidak bisa membuat air laut menguap, dan walaupun air laut ini berlimpah-luah, ia tidak bisa memadamkan api. 
 
Allah bersumpah dengan fenomena kosmik unik ini. Firman-Nya: “Ada laut yang di dalam tanahnya ada api” (Qs. Ath-Thur 6).

Nabi SAW bersabda: “Tidak ada yang mengarungi lautan kecuali orang yang berhaji, berumrah atau orang yang berperang di jalan Allah. Sesungguhnya di bawah lautan terdapat api dan di bawah api terdapat lautan.

Ulasan Hadits


Hadis ini sangat sesuai dengan sumpah Allah SWT yang dilansir oleh Al-quran pada permulaan Surah Ath-Thur, dimana Allah bersumpah (Maha Besar Allah yang tidak membutuhkan sumpah apapun demi lautan yang di dalam tanahnya ada api (Al-Bahr Al-Masjur). Sumpahnya:
وَٱلطُّورِ (١) وَكِتَـٰبٍ۬ مَّسۡطُورٍ۬ (٢) فِى رَقٍّ۬ مَّنشُورٍ۬ (٣) وَٱلۡبَيۡتِ ٱلۡمَعۡمُورِ (٤)وَٱلسَّقۡفِ ٱلۡمَرۡفُوعِ (٥) وَٱلۡبَحۡرِ ٱلۡمَسۡجُورِ (٦) إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٲقِعٌ۬ (٧) مَّا لَهُ ۥ مِن دَافِعٍ۬ (٨)
“Demi bukit, dan kitab yang ditulis; pada lembaran yang terbuka; dan demi Baitul Ma’mur; dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api, sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya.” (QS. Ath-Thur (52):1-8)
 
  
  

Bangsa Arab, pada waktu diturunkannya Al-quran tidak mampu menangkap dan memahami isyarat sumpah Allah SWT demi lautan yang di dalam tanahnya ada api ini. Karena bangsa Arab (kala itu) hanya mengenal makna sajara sebagai menyalakan tungku pembakaran hingga membuatnya panas atau mendidih. Sehingga dalam persepsi mereka, panas dan air adalah sesuatu yang bertentangan. Air mematikan panas sedangkan panas itu menguapkan air. Lalu bagaimana mungkin dua hal yang berlawanan dapat hidup berdampingan dalam sebuah ikatan yang kuat tanpa ada yang rusak salah satunya?

Persepsi demikan mendorong mereka untuk menisbatkan kejadian ini sebagai peristiwa di akhirat (bukan di dunia nyata). Apalagi didukung dengan firman Allah SWT yang terdapat dalam surah At-Takwir:
وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ (٦)
“Dan apabila lautan dipanaskan.” (QS. At-Takwir (81):6)

Memang, ayat-ayat pada permulaan Surah At-Takwir mengisyaratkan peristiwa-peristiwa futuristik yang akan terjadi di akhirat kelak, namun sumpah Allah SWT dalam Surah Ath-Thur semuanya menggunakan sarana-sarana empirik yang benar-benar ada dan dapat ditemukan dalam hidup kita (di dunia).


Hal inilah yang mendorong sejumlah ahli tafsir untuk meneliti makna dan arti bahasa kata kerja sajara selain menyalakan sesuatu hingga membuatnya panas. Dan mereka ternyata menemukan makna dan arti lain dari kata sajara, yaitu mala’a dan kaffa (memenuhi dan menahan). Mereka tentu saja sangat gembira dengan penemuan makna dan arti baru ini karena makna baru ini dapat memecahkan kemusykilan ini dengan pengertian baru bahwa Allah SWT telah memberikan anugerah kepada semua manusia dengan mengisi dan memenuhi bagian bumi yang rendah dengan air sambil menahannya agar tidak meluap secara berlebihan ke daratan.


Namun, hadis Rasulullah SAW yang sedang kita bahas ini secara singkat menegaskan bahwa: Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.


Rasulullah SAW sendiri tidak pernah sama sekali mengarungi lautan semasa hidupnya. Jadi, siapa yang mendorongnya untuk melontarkan masalah gaib seperti ini jika bukan Allah SWT yang memberitahukannya. Allah SWT tahu persis bahwa umat manusia suatu saat nanti pasti akan menumukan kebenaran fakta alam yang mencengangkan ini. Sehingga Allah SWT pun melansirnya di dalam Alqur’an dan menginformasikannya kepada Nabi, agar fakta ini dapat menjadi bukti abadi bahwa Alqur’an adalah kalam Allah Yang Maha Pencipta dan Rasulullah SAW adalah rasul penutup para nabi dan rasul yang senantiasa tersambung dengan wahyu dan diajari oleh Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi. Mengenai hal ini Allah SWT berfirman yang artinya:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alqur’an) menurut kemauan hawa nafsunya“. (QS. An-Najm (53):3)


Setelah Perang Dunia II, para peneliti turun dan menyelam ke dasar laut dan samudera dalam rangka mencari alternatif berbagai barang tambang yang sudah nyaris habis cadangannya di daratan akibat konsumerisme budaya materialistik yang dijalani manusia sekarang ini. Mereka dikejutkan dengan rangkaian gunung berapi (volcanic mountain chain) yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di tengah-tengah seluruh samudera bumi yang kemudian mereka sebut sebagai “gunung-gunung tengah samudera”.


Dengan mengkaji rangkaian gunung-gunung tengah samudera ini tampak jelas bahwa gunung-gunung tengah samudera tersebut sebagian besarterdiri dari bebatuan berapi (volcanic rocks) yang dapat meledak layaknya ledakan gunung berapi yang dahsyat melalui sebuah jaring retak yang sangat besar. Jaring retak ini dapat merobek lapisan bebatuan bumi dan ia melingkupi bola bumi kita secara sempurna dari segala arah dan terpusat di dalam dasar samudera dan beberapa lautan.




tujuh-lapis-bumi
Lebar jaring retak ini dapat mencapai lebih dari 64.000 km sedangkan kedalamannya mencapai 65 km.

Kedalaman jaring retak ini menembus lapisan bebatuan bumi secara penuh hingga menyentuh lapisan lunak bumi (lapisan bumi ketiga) yang memiliki unsur bebatuan yang sangat elastis, semi cair, dan memiliki tingkat kepadatan dan kerekatan tinggi.


Bebatuan lunak ini didorong oleh arus muatan yang panas ke dasar semua samudera dan beberapa lautan semacam Laut Merah dengan suhu panas yang melebihi 1.000 derajat Celcius. Batuan-batuan elastis yang beratnya mencapai jutaan ton ini mendorong kedua sisi samudera atau laut ke kanan dan ke kiri yang kemudian disebut oleh para ilmuwan dengan “fenomena perluasan dasar laut dan samudera”. Dengan terus berlangsungnya proses perluasan ini, maka wilayah-wilayah yang dihasilkan oleh proses perluasan itupun penuh dengan magma bebatuan yang mampu menimbulkan pendidihan di dasar samudera dan beberapa dasar laut.


Salah satu fenomena yang mencengangkan para ilmuwan saat ini adalah bahwa meskipun sebegitu banyak, air laut atau samudera tetap tidak mampu memadamkan bara api magma tersebut. Dan magma yang sangat panaspun tidak mempu memanaskan air laut dan samudera. Keseimbangan dua hal yang berlawanan: air dan api di atas dasar samudera bumi, termasuk di dalamnya Samudera Antartika Utara dan Selatan, dan dasar sejumlah lautan seperti Laut Merah merupakan saksi hidup dan bukti nyata atas kekuasaan Allah SWT yang tiada batas.
 
  
Laut Merah misalnya, merupakan laut terbuka yang banyak mengalami guncangan gunung berapi secara keras sehingga sedimen dasar laut ini pun kaya dengan beragam jenis barang tambang. Atas dasar pemikiran ini, dilakukanlah proyek bersama antara Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Sudan, dan salah satu negara Eropa untuk mengeksploitasi beberapa kekayaan tambang yang menggumpal di dasar Laut Merah. Kapal-kapal proyek ini melemparkan stapler barang tambang untuk mengumpulkan sampel tanah dasar Laut Merah tersebut. 
 
 
Stapler pengeruk sampel tanah itu diangkat dalam batang air yang ketebalannya mencapai 3.000 m. Dan jika stapler sampai ke permukaan kapal, tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena sangat panasnya. Begitu dibuka, maka keluarlah tanah dan uap air panas yang suhunya mencapai 3.000 derajat Celcius. Dengan demikian, sudah terbukti nyata di kalangan ilmuwan kontemporer, bahwa ledakan gunung vulkanik di atas dasar setiap samudera dan dasar sejumlah laut jauh melebihi ledakan vulkanik serupa yang terjadi di daratan. …terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi… 


Kemudian terbukti pula dengan beragam dalil dan bukti bahwa semua air yang ada di bumi dikeluarkan oleh Allah SWT dari dalam bumi melalui ledakan-ledakan vulkanik dari setiap moncong gunung berapi. Pecahan-pecahan lapisan berbatu bumi menembus lapisan ini hingga kedalaman tertentu mampu mencapai lapisan lunak bumi.


Di dalam pisan lunak bumi dan lapisan bawahnya, magma vulkanik menyimpan air yang puluhan kali lipat lebih banyak dibanding debit air yang ada di permukaan bumi. Dari sini tampaklah kehebatan hadits Nabi SAW ini yang menetapkan sejumlah fakta-fakta bumi yang mencengangkan dengan sabda: “Sesungguhnya di bawah lautan ada api dan di bawah api ada lautan.” Sebab fakta-fakta ini baru terungkap dan baru bisa diketahui oleh umat manusia pada beberapa tahun terakhir. 
 
 
Pelansiran fakta-fakta ini secara detail dan sangat ilmiah dalam hadits Rasulullah SAW menjadi bukti tersendiri akan kenabian dan kerasulan Muhammad SAW​ , sekaligus membuktikan bahwa ia selalu terhubung dengan wahyu langit dan diberitahui oleh Allah Sang maha Pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah yang menyatakan: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan” (QS. An-Najm 3-10)

Tidak seorang pun di muka bumi ini yang mengetahui fakta-fakta ini kecuali baru pada beberapa dekade terakhir. Sehingga lontaran fakta ini dalam hadis Rasulullah SAW benar-benar merupakan kemukjizatan dan saksi yang menegaskan kenabian Muhammad SAW dan kesempurnaan kerasulannya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.


Sumber:
1. Pembuktian Sains dalam Sunnah buku 1, karya Dr. Zaghlul An-Najjar.
2. Video  http://www.youtube.com/watch?v=tpy4eNFrC4g&feature=related
Disalin dengan sedikit ubahsuai dari : http://zharifalimin.blogsp​ot.com/2010/03/mukjizat-al​-quran-terungkap-ada-kobar​an.html
Sesungguhnya orang yang beriman itu ialah orang yang apabila disebutkan Allah akan gementar hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya (ayat-ayat Allah) akan bertambahlah iman mereka, dan kepada Rab (Tuhan) mereka bertawakal. ( Surah an-Anfal : Ayat 2 )
»»  READMORE...

360 Sendi Dalam Tubuh

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih Muslimnya dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya setiap manusia dari kalangan anak Adam diciptakan dengan 360 sendi. Barangsiapa yang bertakbir memahabesarkan Allah, bertahmid memuji Allah, bertasbih menyucikan Allah, dan beristighfar memohon ampunan kepada Allah, menyingkirkan batu dari jalanan, atau (menyingkirkan) duri atau tulang dari tengah jalanan, memerintahkan kebaikan, dan mencegah kemungkaran, sejumlah 360 sendi tersebut, maka hari itu ia telah berjalan sambil menjauhkan dirinya dari neraka.” (Shahih Muslim: 1007,2/698)
Hadits senada dilansir oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (Kitab Al-Adab, hadits nomor 4563) dengan redaksi dari Buraidah: Rasulullah Saw menyatakan: “Didalam diri setiap manusia terdapat 360 sendi, dan ia wajib menunaikan satu sedekah bagia setiap sendi.”

Orang-orang bertanya, “Siapa yang sanggup melakukan itu, wahai Nabi Allah?”
Beliau menjawab: “Mengubur ludah di dalam masjid (adalah sedekah). Menyingkirkan rintangan yang menyakitkan dari jalan adalah sedekah. Jika tidak kau dapati ini, maka dua rakaat shalat Dhuha sudah cukup mencukupi hal ini.”

Hal yang mencengangkan dalam hadist ini adalah kemampuan Nabi Saw untuk menyebutkan jumlah sendi tubuh manusia dengan tepat (360 sendi) pada masa ketika tidak mungkin seseorangpun menguasai ilmu yang paling mudah untuk menerangkan tubuh manusia atau pengetahuan dasar tentang jumlah tulang dalam kerangka manusia, juga jumlah sendi-sendi di dalamnya. Hadist ini diucapkan 1400 tahun yang lalu dalam lingkungan yang tidak memahami ilmu pengetahuan dan penelitian.

Hadist ini dilontarkan pada awal abad ke-7, sementara kita sekarang ini berada di awal abad ke-21, dan masih banyak bahkan sebagian besar manusia modern tidak mengetahui jumlah sendi di dalam tubuh manusia. Sejumlah profesor ahli kedokteran dan bedah tulang pada awal abad ke-21 pun tidak mengetahui secara pasti jumlah tulang maupun sendi di dalam tubuh manusia. Kami telah mencoba meng-konfirmasikan hal ini kepada sebagian besar profesor ahli ini, namun jawaban mereka berkisar antara 200-300 tulang dan antara 100-300 sendi.

Demikian juga sejumlah besar ensiklopedia dunia, yang terang-terangan menghindar untuk menentukan secara definitif jumlah tulang dan sendidalam kerangka manusia dan hanya menjelaskan secara global, sebagaimana yang dilakukan Ensiklopedia Britanica yang mengelompokkan tulang dan sendi kerangka manusia dalam tiga kelompok tanpa merincinya:
1. Rangka poras, terdiri dari tulang belakang dan tulang tengkorak.
2. Rangka dalam, terdiri dari tulang rongga dada, tulang rahang bawah, dan sebagian tulang rahang atas.
3. Rangka ujung (pinggir), terdiri dari tulang duduk, seprangkat tulang bahu, jaringan tulang, dan tulang rawan ujung.

Encyclopedia Hantcinson yang terbit tahun 1995 menyebutkan bahwa jumlah tulang dalam kerangka tubuh manusia hanya ada 206 saja.

Namun Dr. Hamid Ahmad Hamid menyebutkan dalam bukunya yang berjudul Rihlah Al-Iman fi Jism Al-Insan bahwa jumlah sendi dalam tubuh manusia sekitar 360 sendi sebagaimana yang ditetapkan Rasulullah Saw 1400 tahun yang lalu.
Dr. Hamid kemudian menjelaskan jumlah ini secara rinci sebagai berikut:
  1. Tulang belakang, memiliki 147 sendi:
    • 25 sendi antartulang belakang
    • 72 sendi antara tulang belakang dan tulang rusuk
    • 50 sendi antartulang belakang pada jalan makanan samping
  2. Dada, memiliki 24 sendi:
    • 2 sendi antara tulang dada dan rongga dada
    • 18 sendi antara tulang dada dan kepala
    • 2 sendi antara tulang selangka dan belikat
    • 2 sendi antara belikat dan tulang batang dada
  3. Bagian atas tubuh, memiliki 86 sendi:
    • 2 sendi antara tulang bahu
    • 6 sendi antara tulang siku
    • 8 sendi antara tulang pergelangan tangan
    • 70 sendi antara tulang-tulang tangan
  4. Bagian bawah tubuh, memiliki 92 sendi:
    • 2 sendi tulang paha
    • 6 sendi antara tulang-tulang dua lutut
    • 6 sendi antara pergelangan kaki
    • 74 sendi antara tulang-tulang telapak kaki
    • 4 sendi antara tulang lutut
  5. Daerah sekitar perut, memiliki 11 sendi:
    • 4 sendi antara tulang ekor
    • 6 sendi antara tulang pinggul
    • 1 sendi antara sambungan tulang kemaluan
Jumlah keseluruhan adalah: 147+24+86++92+11=360

Kerangka tubuh manusia terdiri dari kumpulan tulang yang menyangga tubuhnya, dan memberinya bentuk, sekaligus melindungi alat-alat dan bagian-bagiannya yang lunak dan sensitif, juga menyediakan permukaan yang kokoh yang menjadikan landasan urat.
Tanpa persendian yang telah disiapkan Allah agar sebagian besar tulang rangka manusia yang keras dapat bergerak, tentu manusia akan menderita banyak kesakitan, dan menghadapi berbagai macam persoalan dan beragam kesulitan.

dari sinilah Rasulullah Saw berwasiat kepada manusia untuk bersyukur kepada Allah setiap hari sesuai dengan (bersedekah) minimal sejumlah sendi di tubuhnya jika memang tidak dapat melakukan lebih banyak lagi. Ketika manusia melakukan zikir, syukur, dan sedekah maka sesungguhnya dia tidak akan mampu memenuhi syukur kepada Allah walau untuk satu sendi dari 360 sendi yang telah diciptakan Allah di dalam tubuhnya.

Pertanyaannya, siapakah selain Allah yang mungkin mengejarkan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa setiap manusia diciptakan dengan 360 sendi? Siapakah yang mendorong Nabi Saw untuk menyelami hal-hal gaib seperti ini? Jikalau Allah tidak menguatkan ilmu ini dengan ilmu dari sisiNya yang telah mendahului semua ilmu manusia, maka akan mandeklah ilmu yang diturunkan dan diilhamkanNya di dalam kitabNya kepada Nabi terakhirNya ini. Penyebutan masalah ini dalam hadist shahih yang dinisbatkan kepada Nabi Saw sebagaimana yang dikaji di atas merupakan bukti tersendiri atas kenabian dan kerasulan hingga hari kiamat.

Semoga shalawat kesejahteraan, salam kedamaian dan keberkahan selalu tercurahkan kepada beliau beserta keluarga, sahabat, dan mereka yang mengikuti petunjuknya dan berdakwah di jalanNya sampai kiamat kelak. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

(Sumber: Pembuktian Sains dalam Sunah (Buku 2), karangan Dr. Zaghlul An-Najjar)
»»  READMORE...