Tampilkan postingan dengan label My Inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Inspiration. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2014

Vatikan dan Nazi

Sebuah bukti baru terungkap dalam Arsip rahasia Vatikan yang mengindikasikan bahwa Paus Pius XII (Sri Paus pada masa perang dunia kedua yang sebelumnya merupakan diplomat berpengaruh dari Vatikan bernama Eugenio Pacelli) mungkin secara tidak langsung telah berperan dalam kebangkitan Hitler.

Bukti ini merupakan hasil investigasi dari seorang pria bernama John Cornwell, yang mendapatkan akses ke dalam ruang arsip Vatikan dengan tujuan membebaskan sri paus sebelumnya itu dari tuduhan bersalah. Namun, Cornwell malah menemukan dirinya dalam semacam ‘ situasi keterkejutan moral’ dengan penemuannya, sehingga buku karyanya, Hitler’s Pope, menjadi sebuah karya yang sangat berbeda dari konsep awalnya.


Cornwell sebelumnya telah berusaha berhati-hati dengan argumen-argumen tertentu darinya, menghilangkan beberapa prasangka motif jahat yang sebelumnya ia anggap ditujukan pada sang Paus, dan menekankan pada kenyataan bahwa ia ‘tidak mungkin menghakimi’ Sri Paus ini atas aksi-aksi di masa perang ini. Sebaliknya, ia menekankan kenyataan bahwa di sisi lain Paus Pius telah menolong orang-orang Yahudi dengan mengatur sebuah deportasi di Hungaria yang menyelamatkan 800.000 nyawa. Pada saat yang sama, terdapat bukti-bukti yang sulit untuk diabaikan dan layak untuk diperiksa lebih jauh.

Bagian terbesar dari karya Cornwell berpusat pada tahun-tahun awal Pacelli ketika menjabat sebagai duta kepausan di Munich, sebuah jabatan yang dipangkunya dengan tujuan untuk membangun kembali kekuatan absolut Vatikan dalam sebuah bangsa yang selama lebih dari 400 tahun telah menikmati otonomi religius yang luar biasa. Pada saat inilah, dalam surat-suratnya kepada kardinal Sekretaris Negara Vatikan masa itu (antara tahun 1917 dan 1919), Pacelli mengungkapkan adanya permusuhan laten terhadap anggota-anggota kelompok yang menurutnya adalah ‘sebuah aliran Yahudi’, dan dilukiskan sebagai orang-orang yang pucat, kotor, bermata kosong, bersuara kasar, vulgar, menjijikan, dengan wajah yang pintar dan lihai.’ Secara tersirat pun sudah dapat dibayangkan bagaimana pandangan Pacelli terhadap orang-orang yahudi pada saat itu.

Diktator Dalam Vatikan

Setelah berkuasa pada tahun 1933, Hitler mengalihkan perhatian sepenuhnya pad penandatanganan perjanjian Reich Concordat dengan Pacelli, yang saat itu telah kembali ke Vatikan dan menjabat sebagai Kardinal Sekretaris Negara. Syarat-syarat yang disampaikan oleh sang diktator telah diperhitungkan untuk membatalkan oposisi Vatikan terhadap partai Nazi, dengan imbalan kemungkinan untuk dimasukannya hukum kanonik bagi warga Katolik Jerman. Pihak Vatikan telah mendorong Partai Pusat Katolik Jerman untuk menandatangani surat akta yang akan memberikan izin yang secara efektif membubarkan salah satu partai oposisi paling signifikan terhadap Reich Ketiga dan akhirnya memberi Hitler sebuah kekuatan diktatorial yang tidak terkendali.



Sebagai hasilnya, jutaan orang Katolik bergabung dalam partai Nazi karena percaya bahwa partai itu mendapat dukungan total dari Sri Paus sendiri. Sementara itu, Hitler secara terbuka memuji perjanjian ini sebagai ‘hal yang sangat signifikan’ dalam perjuangan melawan golongan Yahudi internasional’. Mulai saat inilah, semua kritik-kritik dari orang Katolik Jerman terhadap partai Nazi harus disalurkan melalui Vatikan, tetapi pada saat yang sama, tidak pernah terdengar atau terlihat tindakan dari Vatikan. Hal ini sebagian besar adalah akibat dari posisi keras kepala Pacelli sendiri.

Pada musim panas tahun 1938, saat Paus Pius XI terbaring sekarat, ia tiba-tiba menjadi resah memikirkan kebangkitan fasisme dan anti-Yahudi Eropa. Namun, tiba-tiba semuanya menjadi terlambat. Paus Pius XI tiba-tiba ditemukan telah wafat hanya beberapa jam sebelum ia membacakan pidatonya yang akan mengutuk fasisme yang diprakarsai Hitler.

Sementara itu, Pacelli terpilih menjadi Paus setelah tiga kali pemungutan suara dan dinobatkan menjadi Paus Pius XII pada tanggal 12 Maret 1939. Salah satu dari aksi-aksi perdananya adalah bertemu dengan otoritas Jerman dan memastikan dukungannya kepada partai Nazi. Pada bulan berikutnya, atas permintaan Pacelli, duta kepausan di Berlin menyelenggarakan sebuah gala resepsi untuk merayakan ulang tahun Hitler yang ke-50. Sementara itu, perang sudah di depan mata.

Perang dan Vatikan
Hitler menginvasi Polandia pada tanggal 1 September 1939. Meskipun pihak sekutu sangat terkejut, Paus Pius XII tidak berkomentar apapun. Ia menolak untuk mengutuk pihak Nazi bahkan saat perang meluas dan korban menggunung di kedua belah pihak, meskipun baru pada tahun 1942. Dan ketika dunia terbangun melihat kenyataan tentang Solusi Terakhir (perintah Hitler untuk pemusnahan Yahudi), kebisuan pihak kepausan menjadi sangat mengganggu.

Pada tanggal 16 Juni, surat kabar Inggris, Daily Telegraph, menerbitkan artikel di halaman depan tentang pemusnahan orang Yahudi. Kurang dari satu minggu kemudian, sebuah pawai besar dilakukan di lapangan Madison Square Gardens, New York menuntut dunia untuk campur tangan dalam krisis ini. Pada bulan September, Presiden Roosevelt mengirim perwakilan pribadi ke Vatikan dengan harapan dapat memicu reaksi Sri Paus, namun tindakan Roosevel ternyata sia-sia, Sri Paus tetap saja keras kepala. Pada saat itu hanya Vatikanlah yang benderanya berkibar di seantero dunia melewati samudera-samudera, sehingga sedikit saja anggukan dari Sri Paus saat itu akan memicu jutaan reaksi dari umat Katolik diseluruh dunia, dan jika itu terjadi, dunia akan bangkit untuk bersatu.


Yang terjadi justru hanya dalam pesan natalnya pada tahun yang sama, (seminggu setelah utusan dari Inggris untuk Vatikan secara pribadi menyerahkan satu berkas berisi dokumentasi tentang pemusnahan orang Yahudi dalam kamp-kamp konsentrasi yang tersebar di seluruh Eropa dengan jumlah yang cukup untuk meyakinkan Sri Paus), Paus Pius XII akhirnya mau berbicara. Namun, apa yang disampaikan begitu samar sehingga ia sepertinya tetap mempertahankan kebisuannya. Dalam pesan natal itu tidak disebutkan nama ‘Nazi’ atau ‘orang Yahudi’, hanya sebuah referensi samar tentang ‘ribuan orang’ telah dibunuh karena ‘kebangsaan atau rasnya.’

Bila pengutukan yang tidak jelas itu menandai sebuah perubahan dalam kebijakan terhadap Nazi, maka hal itu kurang signifikan untuk mampu menyelamatkan jutaan orang Yahudi yang dikumpulkan di jalan-jalan kota Roma oleh para serdadu SS, tepat di depan mata Sri Paus, kurang dari setahun kemudian. Dari mereka yang diasingkan, hampir semuanya terbunuh.
»»  READMORE...

Minggu, 01 Januari 2012

Seorang Siswa Debat Dan Mengalahkan Pertanyan Dari "Guru Fisika"

Seorang Guru dari sebuah sekolah terkenal menantang siswa dan siswinya dengan pertanyaan ini.

Guru : "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang Siswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya guru sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata siswa tersebut.

Guru itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan".

Siswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis Guru tersebut. Guru itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Agama itu adalah sebuah mitos.

Siswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Guru, boleh saya bertanya sesuatu?".

"Tentu saja," jawab si Guru.

Siswa itu berdiri dan bertanya, "Guru, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada jawab Gurunya.

"Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si Guru diiringi tawa siswa lainnya.

Siswa itu menjawab, "Kenyataannya, dingin itu tidak ada pak. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Siswa itu melanjutkan, "Guru, apakah gelap itu ada?"

Guru itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Siswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah Pak, gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya siswa itu bertanya, "Guru, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang Guru itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini siswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Guru itu terdiam..................................................

Dan siswa tersebut adalah ALBERT EINSTEIN

»»  READMORE...

Sabtu, 31 Desember 2011

10 Racun Psikolog Dalam Diri

  • Racun pertama : Menghindar
    Gejalanya lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.
    Antibodinya realitas
    Caranya berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.
  • Racun kedua : Ketakutan
    Gejalanya tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkimpoian, kesulitan seksual.Antibodinya keberanianCaranya hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Kebenarian merupakan merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.
    http://woxuedao.files.wordpress.com/2009/05/motivation.jpg
  • Racun ketiga : Egoistis
    Gejalanya nyiyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.Antibodinya bersikap sosial.Caranya jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akn diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.
  • Racun keempat : Stagnasi
    Gejalanya berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.Antibodinya ambisiCaranya teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. kita kan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.
  • Racun kelima : Rasa rendah diri
    Gejalanya kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.Antibodinya keyakinan diri.Caranya seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya aka kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.
  • Racun keenam : Narsistik
    Gejalanya kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.Antibodinya rendah hati.Caranya orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.
  • Racun ketujuh : Mengasihani diri
    Gejalanya kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.Antibodinya sublimasiCaranya jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.
  • Racun kedelapan : Sikap bermalas-malasan
    Gejalanya apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.Antibodinya kerjaCaranya buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.
  • Racun kesembilan : Sikap tidak toleran
    Gejalanya pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.Antibodinya kontrol diriCaranya tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.
  • Racun kesepuluh : Kebencian
    Gejalanya keinginan balas dendam, kejam, bengis.Antibodinya cinta kasihCaranya hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.
Simpanlah paket tiket untuk perasaan tidak bahagia dan mengaculah pada paket tiket ini saat kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia. Gunakan sebagai sarana pertolongan pertama dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindar dari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang.
»»  READMORE...

Selasa, 27 Desember 2011

Pintar Tidak Harus Sekolah




Berusaha secara optimal dalam  pentransferan  ilmu menjadi cita- cita bagi setiap guru, dan berharap siswa mampu menerima dan memahami apa yang telah dijelaskan oleh gurunya. Namun ini hanya sebagai tujuan dalam teori pengajaran, tetapi dalam prakteknya banyak siswa yang tidak mampu memahami pelajaran- pelajaran, bukan berarti bahwa siswa tersebut bodoh atau malas tetapi hanya saja siswa mempunyai cara yang berbeda dalam memahami pelajaran itu, bisa juga kurangnya penjelasan dari guru dengan pelajaran yang diberikannya. Maka daripada itu bagaimana solusinya?

Manusia mempunyai kemampuan untuk berpikir dan rasa ingin tahu yang besar. Untuk itu sebagai seorang siswa kita dituntut mengembang potensi yang ada dalam diri kita semaksimal mungkin. Jangan lagi mengharapkan  ilmu yang kita dapatkan semuanya berasal dari guru. Pada masa sekarang ini, siswa dituntut untuk lebih aktif dalam mencari tahu segala hal, baik tentang pelajaran, tugas dari guru sampai kepada hal- hal yang terjadi di sekitarnya sehingga siswa mempunyai wawasan yang luas.

Kadang rasa malas menghambat itu semua. Buang jauh- jauh rasa malas tersebut dan manfaatkan waktu semaksimal mungkin. Sehabis pulang dari sekolah, biasanya siswa menghentikan segala aktivitas belajarnya. Tetapi sebagai calon seorang pemenang, kita sebagai seorang siswa harus mempelajari pelajaran yang telah dipelajari di sekolah tadi dan mulailah memahami dengan bahasa sendiri dan mulai mencari tahu lebih detail lagi pelajaran tersebut, seperti pergi ke perputakaan, membaca berbagai literatur dari berbagai buku. 

Kendalanya untuk mencari literatur tersebut memerlukan waktu yang sangat lama. Maka daripada itu dengan dibantu teknologi kita bisa mencari tahu berbagai literature dengan waktu singkat dan akurat melalui jasa internet. Dengan banyak membaca, ide- ide baru akan muncul dalam mengerjakan soal- soal maupun aplikasinya dalam kehidupan.

Kita contohkan saja para penemu- penemu ternama seperti Albert Enstein, James Watt, Al Khawarizmi, Ibnu Sina dan ilmuwan lainnya. Diantara ilmuwan- ilmuan itu bahkan ada yang tidak mengenyam bangku sekolah, karna rasa ingin tahu yang besar dan kemaun yang kuat mereka akhirnya berhasil membuat penemuan baru.

Menurut Vince Lombardi:
Perbedaan antara mereka yang berhasil dengan yang tidak bukanlah karena kurangnya kekuatan, bukannya karena kurang pengetahuan, tetapi lebih pada kurangnya keinginan.

Adapun yang perlu digaris bawahi, membaca tidak harus membaca buku- buku yang kita perlukan saja, tetapi dalam konteks ini membaca tidak mengenal itu buku apa, penting atau tidak bagi kita, tetapi tujuan membaca adalah menambah wawasan kita tentang ilmu pengetahuan. Dan yang perlu diperhatikan lagi, membaca tidak harus di perpustakaan, sekolah atau rumah, tetapi harus dimana saja..

Dalam sebuah istilah:
Orang- orang hebat mengawali kesuksesannya dengan membaca apapun yang ia sukai. Sungguh mengetahui dan memahami segala sesuatu adalah harta yang paling berharga. 
Dalam hal, membutuhkan proses dalam upaya banyak ilmu, tanamkanlah dalam diri kita sejak dini untuk membaca apa saja yang kita sukai, contohnya pada masa anak- anak lebih cenderung menyukai cerita- cerita bergmbar sebagai daya tariknya. Apabila sudah dari dini ditanamkan budaya membaca maka untuk ke depannya budaya membaca tersebut sudah mudah kita lakukan. Bahkan di era globalisasi dengan kemajuan teknologi, malah kebanyakan orang cenderung mendengar dan berbicara ketimbang melihat diikuti membaca. Hal ini dikarenakan mendengar lebih menarik daripada membaca buku- buku yang tebal.

Jadi pada intinya, untuk memperoleh ilmu itu bukan hanya saja kita dapat dari sekolah, tetapi bisa kita dapatkan dimana saja baik melalui membaca, melihat, mendengar, bahkan dari pengalama atau praktek langsung.  Selama kita terus berkeinginan mencari tahu maka ilmu akan semakin bertambah.
»»  READMORE...