Selasa, 11 Desember 2012

Keanehan di Jalur Gaza

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.

Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.

Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

Pasukan “Berseragam Putih” di Gaza
Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.

Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.

SuaraTak Bersumber
Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.

“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.

Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.

Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.

“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya

Saksi Serdadu Israel
Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa. Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Chan*nel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.

“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.
»»  READMORE...

Sejarah “Re-Historical Borobudur” di Mulai dari sini




Untuk sekadar mengingatkan kembali bagaimana pentingnya kita menghargai sejarah dan benda-benda peninggalan berupa artefak-artefak, candi, prasasti, atau yang lainnya, marilah kita melihat bagaimana Candi Borobudur direkonstruksi sehingga menjadi bangunan yang megah dan termasuk tujuh keajaiban dunia. Untuk mengawalinya kita perlu melihat bagaimana nama dan Candi Borobudur diketahui.
Hutan belakar
 
Sekira tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar. Kemudian pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825.
 
Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.
 
Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada nama tempat. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit. Sedangkan Prof. JG. De Casparis mendasarkan pada Prasasti Karang Tengah yang menyebutkan tahun pendirian bangunan ini, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824 Masehi), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam prasasti didapatlah nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang bagi arwah-arwah leluhurnya.
 
Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.
 
Dalam teks pelajaran sejarah: disebutkan bahwa candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Sedangkan yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani. Katanya Candi Borobudur dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 750 dan 842 Masehi. Candi Buddha ini kemungkinan besar ditinggalkan sekitar satu abad setalah dibangun karena pusat kerajaan pada waktu itu berpindah ke Jawa Timur.
 
Sebelum dipugar, Candi Borobudur berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan sekarang ini. Ketika kita mengunjungi Borobudur dan menikmati keindahan alam sekitarnya dari atas puncak candi, kadang kita tidak pernah berpikir tentang siapa yang berjasa membangun kembali Candi Borobudur menjadi bangunan yang megah dan menjadi kekayaan bangsa Indonesia ini.
 
Pemugaran selanjutnya, setelah oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann, dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang. Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. 
 
Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana. Oleh sebab itu, para pemugar harus memiliki sekelumit sejarah agama ini di Indonesia. Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalur.
425602_2750689814338_2082135587_n 
 
Materi candi
Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Borobudur mirip bangunan piramida Cheops di Gizeh Mesir. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. 
 
Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jadi kalau rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. 
 
Sedangkan, tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir. Tetap menjadi suatu misteri,sekedar tambahan candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia dengan tinggi 34,5 meter dan luas bangunan 123 x 123 meter. Di dirikan di atas sebuah bukit yang terletak kira-kira 40 km di barat daya Yogyakarta, 7 km di selatan Magelang, Jawa Tengah.
Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa.
 
Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Dan itulah salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia.
 
Melihat kemegahan bangunan Candi Borobudur saat ini dan candi-candi lainnya di Indonesia telah memberikan pengetahuan yang besar tentang peradaban bangsa Indonesia. Berbagai ilmu pengetahuan terlibat dalam usaha rekonstruksi Candi Borobudur yang dilakukan oleh Teodhorus van Erp. Kita patut menghargai usaha-usahanya mengingat berbagai kendala dan kesulitan yang dihadapi dalam membangun kembali candi ini.
 
Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan? Mengingat pada masa itu belum ada gambar biru (blue print), lalu dengan sarana apakah mereka itu kalau hendak merundingkan langkah-langkah pengerjaan yang harus dilakukan, dalam hal gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? Dan masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmu pengetahuan, terutama tentang ditemukannya ruang pada stupa induk candi. Restorasi di tahun 1974-1983
 
 
Harta karun
Pemugaran selanjutnya dilakukan pada tahun 1973-1983, selang 70 tahun dari pemugaran yang dilakukan van Erp. Pemugaran ini dimaksudkan tiada lain sebagai upaya melestarikan budaya yang tak ternilai harganya. Inilah “harta karun” yang sesungguhnya tak bisa dihargai dengan uang apalagi dijual untuk membayar utang. Kesadaran masyarakat untuk ikut mengamankan bangunan candi sangat diharapkan termasuk juga dari para wisatawan.
 
Penggalian, penelitian, dan rencana pemugaran terhadap candi-candi atau benda-benda bersejarah lainnya yang baru-baru ini ditemukan tentunya membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Pemugaran bangunan budaya dan kepurbakalaan tidak semudah pembangunan gedung modern. Setiap bentuk bangunan budaya memiliki makna yang khusus dan hal ini tidak dapat diabaikan di dalam pemugaran bangunan kuno tersebut. Oleh sebab itu butuh dukungan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Upaya membangun kembali sebuah simbol-simbol peradaban yang pernah hilang berarti semakin membuka mata-hati kita tentang sejarah peradaban manusia Indonesia yang kaya dengan ilmu pengetahuan dan budaya. Dengan demikian, kita akan menjadi manusia berbudaya yang mampu menghargai budayanya sendiri sebagai bentuk jati diri dan identitas bangsa yang mandiri.
 
Akhirnya, kita harus membangkitkan kembali gairah menghargai benda-benda cagar budaya yang bukan hanya menjadi kekayaan masyarakat dan bangsa, melainkan juga menjadi kekayaan ilmu pengetahuan yang akan terus mengungkap fakta-fakta sejarah itu. Menikmati keindahan dan menjaga kelestariannya merupakan salah satu bentuk kepedulian yang sangat berarti. Tentunya peran lembaga yang berkaitan dengan perlindungan benda-benda cagar budaya perlu ditingkatkan dengan memberikan pemahaman, pengertian dan sosialisasi tentang pentingnya menjaga dan melestarikan benda-benda tersebut.
 
Perlindungan hukum pun harus ditegakkan secara konsisten sehingga tidak terjadi lagi kepincangan-kepincangan hukum yang menyisakan rasa ketidakadilan bagi masyarakat, seperti halnya kasus peledakan Candi Borobudur pada 1983.
 
Namun, sampai sekarang Candi Borobudur masih menyimpan sejumlah misteri. Sejumlah misteri itu misalnya, siapa yang merancang Candi Borobudur, berapa jumlah orang dipekerjakan untuk membangun candi tersebut, dari mana saja batu untuk membangun candi ? Filosofi apa yang digunakan untuk membuat candi tersebut ? Tetapi yang pasti candi ini merupakan aset penting bagi Indonesia di mata dunia internasional. Kita harus bangga dan selalu menjaga kelestariannya.
wfo25vug
ANCIENT LOTUS LAKE OF BOROBUDUR, ARTICHLES
ANCIENT LOTUS LAKE OF BOROBUDUR, ARTICHLES
302157_193972470671419_100001760013591_415868_705074524_n
67483_1586869504661_1023504567_31630845_7388086_n
»»  READMORE...

Borobudur: Filosofi dan Sejarah yang Terkubur

1342725736501309491
Candi borobudur. Sejarah dan filosofi buddha yang terkubur (sumber photo: http://www.gameedukasi.com/2012/06)


Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Borobudur mirip bangunan piramida Cheops di Gizeh Mesir. Dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Namun berbeda dengan piramida raksasa Mesir dan Piramida Teotihuacan Meksiko, piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Inilah salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Buddhis di Indonesia.

Ada beberapa versi seputar waktu pembangunan candi Borobudur. Sebagian berpendapat, masa pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu sekitar 1 abad, antara 750-847 M dalam 3 generasi kerajaan Buddhis Mataram Kuno Wangsa Syailendra. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarattungga, dan diselesaikan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.

Sedangkan menurut Prof. JG. De Casparis, berdasarkan pada Prasasti Karang Tengah menyebutkan tahun pendiriannya, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Casparis memperkirakan candi Borobudur dibangun oleh raja Samarattungga pada tahun 824 M. Berdasarkan prasasti Kulrak (784M) pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M, yaitu oleh putrinya, Ratu Dyah Pramudawardhani.
Dalam pelaksanaannya, pembangunan candi dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddhis Tantra Vajrayana. Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. 

Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana. Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. 

Sejarah asal nama Borobudur sendiri, beberapa ahli purbakala mengungkapkan versi berbeda. Menurut Prof. Dr. Poerbotjoroko, Borobudur berasal kata Bhoro dan Budur. “Bhoro” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kompleks “candi, bihara atau asrama,” sedangkan kata “budur” merujuk pada bahasa Bali, “beduhur” yang berarti “di atas.” Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti “bihara di atas sebuah bukit.” Sedangkan menurut Casparis, berdasarkan prasasti Karang Tengah, Borobudur berasal dari BhūmiSambhāraBhudhāra yang dalam bahasa sansekerta berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa.
1342727648440988685
Gambar potongan candi borobudur dari samping, ada 3 tingkat, Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. (sumber photo: http://rifkymedia.wordpress.com)


Candi Borobudur sendiri memiliki 10 tingkat yang menggambarkan filsafat mazhab Mahayana. 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama di puncaknya. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan 10 tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Tingkatan pada bangunan candi Borobudur melambangkan 3 tingkatan filosofi ajaran Budha yakni :
1. Kamadhatu (ranah hawa nafsu), yaitu dunia yang masih dikuasai oleh hawa nafsu, Bagian ini diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Disini terdapat 160 relief cerita Karmawibhangga namun saat ini tersembunyi karena tertutup struktur.

2. Rupadhatu (ranah berwujud), yaitu dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Bagian ini terdiri dari empat lorong dengan 1300 gambar relief dengan panjang seluruhnya 2,5 km.

3. Arupadhatu (ranah tak berwujud), yaitu dimana manusia sudah terbebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Denah lantai berbentuk lingkaran. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. 

Tingkatan tertinggi ini dilambangkan dengan stupa yang terbesar dan tertinggi, stupa polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan arca Buddha belum selesai (unfinished Buddha), yang semula disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut kepercayaan patung yang salah dalam pembuatannya tidak boleh dirusak.
1342726656113223659
Unfinished Buddha. Stupa terbesar dan tertinggi yang belum selesai. sumber phot: http://travel.nationalgeographic.com/travel/world-heritage)


Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang sebagai jalan sempit dibatasi dinding yang mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah yang setiap bulan purnama penuh bulan Mei atau Juni menjadi pusat peringatan Waisak bagi umat Budha. 

Relief-relief yang terpahat di setiap tingkatan ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, bergerak searah jarum jam, dimulai dari sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang yang terletak di bagian timur. 

Sedangkan relief-relief candi yang beejumlah total 1.460 pigura, secara berurutan menceritakan makna filosofi sebagai berikut:
1. Karmawibhangga, sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, menggambarkan hukum karma. Pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita terpisah yang mempunyai korelasi sebab akibat. Secara keseluruhan relief sejumlah 160 pigura ini menggambarkan kehidupan manusia dalam lingkaran lahir-hidup-mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan. 

2. Lalitawista, menggambarkan riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang  berarti “hukum” dengan lambang roda.

3. Jataka dan Awadana. Jataka menceritakan tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain, sebagai tahapan persiapan menuju ketingkat ke-Budha-an. Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana (perbuatan mulia kedewaan), dan kitab Awadanasataka (100 cerita Awadana). 

Pada relief candi Borobudur, jataka dan awadana sejumlah 720 pigura yang tersebar di tingkat 1 dan 2, terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala (untaian cerita Jataka), karya penyair Aryasura (abad 4 M).
4. Gandawyuha, deretan relief di dinding lorong ke-2, adalah cerita tentang pengembaraan Sudhana dalam mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.
1342726881467204448
Foto Borobudur pertama kali pada tahun 1873. (sumber photo: http://viiphoto.ning.com/profiles/blogs/candi-borobudur)


Dalam sejarahnya, candi Borobudur sendiri baru diketemukan pada 1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar. Borobudur sudah mengalami setidaknya 4 kali pemugaran dengan total waktu lebih dari 29 tahun. Pemugaran pertama dilakukan pada masa pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1907-1911 oleh Theodoor van Erp, seorang ahli teknik bangunan Genie Militer. Pemugaran ke-2 berjalan selama 14 tahun, dimulai dari tahun 1926 dan berhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II. 

Pemugaran ke-3 memakan waktu 11 tahun, 1973-1984, yang merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dengan UNESCO dan dikerjakan oleh badan khusus International Consultative Committee (ICC) di bawah ketua Prof.Ir.Roosseno, dengan total biaya 7.750 juta US dollar. UNESCO menyediakan 5 juta US dollar dan sisanya  ditanggung pemerintah Indonesia. Pada tahun 1985 pemugaran harus dilakukan kembali setelah terjadi serangan bom teroris yang mengakibatkan kerusakan beberapa stupa pada Candi Borobudur. 

Pada tahun 1991, Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. Dan di tahun 2012 ini, Guinness World Records di London, Inggris, mencatatkan secara resmi Candi Borobudur sebagai situs arkeologis Candi Buddha terbesar di dunia. Pencatatan itu dilakukan pada 27 Juni 2012 dan telah berhasil mendapatkan nomor klaim yang menyatakan Candi Borobudur yang menjadi UNESCO world heritage list nomor 592 (1991) sebagai situs arkeologis candi Buddha terbesar di dunia.
»»  READMORE...

Pahlawan Nasional dari Tanah Papua, Frans Kaisiepo : Irian (Papua) Itu Merupakan Bagian Dari Indonesia

135515094895340706
Foto : www.google.co.id
Mungkin, banyak yang melupakan jasa Pahlawan Nasional dari tanah Papua, Frans Kaisipo yang telahberjuang sejak masa-masa kemerdekaan RI. Tindakannya yang sangat teguh menyatakan bahwa Papua merupakan bagian dari Nusantara Indonesia, menjadikan dirinya “dipinggirkan” oleh pemerintah Belanda karena hingga setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, pemerintah Belanda masih bersikukuh menjadikan Papua sebagai wilayah koloninya.
Hingga pada suatu ketika di tahun 1946, Frans Kaisiepo dengan lantang mengatakan “Irian (Papua) itu merupakan bagian dari Indonesia.”
Frans Kaisiepo lahri di Wardo, Biak, 10 Oktober 1921. Pada usia 24 tahun, ia mengikuti Kursus Bestuur(Pamong Praja) di Hollandia (Jayapura) yang salah stau pengajarnya adalah Soegoro Atmoprasodjo yang merupakan mantan guru Taman Siswa (yogyakarta).
Sejak pertemuannya dengan Soegoro Atmoprasodjo, jiwa kebangsaan Frans semakin bertumbuh dan kian berjuang keras untuk menyatukan Irian (Papua) kedalam NKRI. Ketika umurnya 25 tahun, Frans menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak. Selain itu, pada usianya yang ke-25 tersebut, Frans menjadi anggota delegasi Papua (Nederlands Nieuw Guinea) yang kala itu membahas tentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dalam Republik Indonesia Serikat (RIS), dimana pada saat itu Belanda memasukkan Papua dalam NIT.
Di hadapan konferensi, Frans Kaisiepo memperkenalkan nama “Irian” sebagai pengganti nama “Nederlands Nieuw Guinea”, yang secara historis dan politik merupakan bagian integral dari Nusantara Indonesia (Hindia-Belanda). Jelaslah pernyataan Frans serta merta ditolak oleh Belanda dan sejak saat itu pula Frans dipinggirkan oleh Belanda. Selain itu, ia juga dijauhkan dari segala agenda pembicaraan mengenai Papua yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Pada 1940-an, Frans Kaisiepo pernah menjadi Kepala Distrik d Warsa, Biak Utara dan menjelang dekade 1940an, ia sempat mengusulkan diri agar Irian (Papua) masuk ke dalam wilayah Karesidenan Sulawesi Utara. Beberapa waktu setelah pengusulan itu, ia dipenjara dan diasingkan oleh Belanda. Kemudian tahun 1961, Frans mendirikan Partai Politik Irian yang bersikap lantang menuntut penyatuan segera Irian (Papua) ke dalam NKRI.
Adanya beberapa tuntutan dari berbagai pihak agar Irian (Papua) segera diserahkan kepada pemerintah Indonesia mengakibatkan perlunya konferensi yang membicarakan hal tersebut. Oleh sebab itu, tahun 1949, digelarkan Koferensi Meja Bundar (KMB). Pada saat itu, Belanda meminta Frans Kaisiepo masuk sebagai anggota delegasi Belanda atau negara bagian BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg). Jelas hal tersebut langsung ditolak oleh Frans.
Dari hasil KMB tersebut, lahirlah keputusan tentang pengakuan kedaulatan oleh keputusan mengenai pengakuan kedaulatan oleh Belanda terhadap seluruh wilayah NKRI, namun Belanda menunda penyerahan Papua kepada Indonesia hingga setahun kemudian. Akan tetapi, setelah setahun berjalan, Belanda tetap berusaha keras melanggengkan politik kolonialnya di Papua.
Berbagai jalur diplomasi pun terus dilakukan Pemerintah Indonesia, namun Belanda semakin bersikukuh mempertahankan kolonialisasinya terhadap Papua bahkan semakin terlihat keinginan Belanda menyiapkan “Negara Papua”.
Setelah melewati beberapa konfrontasi, pada 4 Agustus 1969 dilaksanakanlah Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang pada saat itu Frans masih menjadi Gubernur Papua. Jelas Frans Kaisiepo sangat berperan dalam pelaksanaan Pepera tersebut.
Hasil dari dari Pepera tersebut adalah suara bulat dari masyarakat Papua adalah tetap bergabung dengan Indonesia. Pelaksanaan Pepera diawasi langsung oleh utusan Sekjen PBB (diplomat Bolivia, Fernando Ortiz Sanz selaku wakil PBB untuk Irian Barat) serta dihadiri oleh beberapa duta besar dari negara lain.
Melalui Resolusi No.2504 pada tanggal 19 November 1969, secara resmi Papua dinyatakan kembali ke dalam pangkuan NKRI.
Tentulah Frans Kaisiepo sangat berjasa dalam perebutan kemerdekaan Irian (Papua) dari pemerintah Belanda. Oleh sebab itu, pemerintah RI menganugerahi penghargaan Trikora dan Pepera kepada Frans Kaisiepo.
Sangat jelas bukan, bahwa Papua memang jelas bagian Indonesia sejak dahulu kala. Perjuangan para Pahlawan Nasional dari tanah Papua juga turut mewarnai penyatuan NKRI. Lah sekarang kok iya, penerusnya malah berkhianat terhadap jasa para pahlawannya?
Jelas tertulis diatas, bahwa keinginan mendirikan “Negara Papua” adalah keinginan Pemerintah Belanda, bukan keinginan dari para pahlawan yang berjuang mati-matian ingin memerdekakan wilayah Papua dari jajahan Belanda.
Majalah Papua No. 02/Vol.I/Oktober-Desember 2012
Arya Dwiputra
»»  READMORE...

Nasa Deteksi Suara "Nyanyian Bumi"

NASA baru baru ini mengeluarkan hasil temuanya yang menyatakan bahwa menangkap ‘Nanyian Bumi”. Suara yang aneh mirip dengungan tersebut ditangkap oleh satelit kembar Radiation Belt Storm Probe (RBSP). Satelit tersbut diluncurkan 30 Agustus. 
Peneliti dari University of Iowa, Craig Kletzing  mengatakan bahwa manusia sejatinya sudah mengetahui suara ini selama beberapa dekade.  “Penerima gelombang radio terbiasa menangkapnya, terdengar seperti kicauan burung,” ucap dia seperti dimuat Daily Mail.
NASA menganggap bahwa hal tersebut adalah temuan hebat. Namun bagi uman muslim khususnya, hal tersebut sudah dituliskan dalam Al Quran yang diturunkan ratusan tahun lalu.
Dalam Quran dijabarkan bagaimana bintang-bintang itu beredar pada porosnya sebagaimana mengetahui tumbuh-tumbuhan, gunung-gunung berdiri dan bergerak mengikuti sunnah-Nya, sesungguhnya semuanya itu bersujud dan bertasbih kepada khaliknya. Namun kita memang tidak mengetahui bagaimana cara mereka bersujud dan bertasbih.
Firman Allah :
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti mereka. Sesungguhya Dia adalah maha penyantun lagi maha Penyayang” (QS 17:44)
Kalau sekarang NASA baru mengetahui hal itu bagi kaum muslim semakin mempertegas kebenaran yang di tuliskan dalam Quran. Allah membuktikan dengan cara yang tidak biasa dan menunjukan kepada kita semua bahwa kebenaran hakiki dari Al Quran.

»»  READMORE...

Senin, 10 Desember 2012

Qin Shi Huang, Kaisar Pertama dan Firaun Dari China

                                                                                    
Qin Shi Huang, Kaisar pertama China. (Wikimedia Commons)
Kaisar Qin Shi Huang dihormati secara luas sebagai kaisar pertama dari Tiongkok bersatu.
Qin Shi Huang dilahirkan selama periode Perang Antar Negara (475 SM sampai 221 SM) dan menghadapi banyak hambatan. Kemunculannya  ke panggung kekuasaan adalah legenda besar dalam sejarah Tiongkok.

Ayah Kaisar Qin adalah Ying Yiren.
Pada masa mudanya, Ying adalah seorang pangeran yang tinggal di pengasingan Negara Qin sebagai sandera, ditahan oleh Negara Zhao. 
Ying hidup miskin selama disandera.
Kakek Ying adalah Raja Qin, tetapi ayah Ying bukan putra mahkota.
Ying juga memiliki lebih dari 20 saudara dari istri-istri ayahnya. Dia dikirim ke Zhao karena dia adalah anggota dari keluarga kerajaan yang merupakan kebiasaan pada Periode Perang Antar Negara untuk menjaga perdamaian antara negara-negara tetangga.
Pada saat itu, ada tujuh negara di Tiongkok, semuanya saling berperang. Zhao adalah yang terkuat secara militer dan telah berperang dengan Qin bertahun-tahun lamanya.
Pada tahun 260 SM, pedagang Lu Buwei mengunjungi Ying, yang tinggal dalam keputusasaan yang mendalam.
Lu, dengan ketajaman politik luar biasa, menyadari bahwa ini adalah kesempatan sekali seumur hidup miliknya. Lu menginvestasikan sejumlah besar uang untuk mendukung Ying, dan bahkan memberikan Ying salah satu selir kesayangannya, Putri Zhao.
Tahun berikutnya, 259 SM, Ying dan Putri Zhao memiliki seorang putra. Mereka menamai anak itu Ying Zheng, yang kemudian menjadi Kaisar Qin Shi Huang.
Lu meneruskan politiknya bagi Ying Yiren. Berkat keahlian persuasinya dan dukungan besar, Ying dan keluarganya dapat kembali ke Negara Qin dua tahun berikutnya. Lu juga berhasil menjadikan ayah Ying dan penerusnya menjadi penerus kerajaan.
Setelah ayahnya meninggal, pada 247 SM Ying Zheng menjadi raja Qin di usia 12 tahun. (Beberapa pendapat diantara para cendekiawan yang menyatakan bahwa Lu Buwei adalah ayah asli Ying Zheng) Lu menjadi pejabat tertinggi di kerajaan dan mengendalikan semua urusan kerajaan.
Nasib baik Lu tidak bertahan lama dan pada 234 SM, Ying Zheng telah dewasa dan mengambil alih kekuasaan negara. Segera setelahnya, Lu terlibat dalam kup dan dipaksa bunuh diri. Apa yang tersisa darinya adalah buku sejarah yang dieditnya, seperti yang dikenal sekarang.
Setelah Ying Zheng menjadi raja, dia bertekad untuk memperkuat Qin dan bersiap mencaplok keenam negara lainnya. Kebijakan Qin berfokus pada aturan hukum. 
Dia menghadiahi petani dan prajurit-prajurit karena membangun ekonomi negara dan kekuatan militer. Perlahan-lahan, hukum Qin menjadi sangat menditail dan menyeluruh.
Contohnya, keluarga-keluarga akan didenda karena melanggar wajib militer jika mereka punya anak laki-laki tapi tidak mengirimkannya bergabung dalam militer.
Pendekatan Ying Zheng pada negara yang bertikai adalah berteman dengan negara yang jauh dan menyerang yang paling dekat. Perlahan-lahan, negara-negara dekat Qin dikalahkan dan dicaplok. 
Segera setelahnya, Qin dapat mengambil alih keenam negara lainnya, dengan tambahan negara Nanyue di Selatan (termasuk sekarang Guangdong, Guangxi dan propinsi Yunnan). Tahun 221 SM, dia membentuk dinasti terbesar dalam sejarah Tiongkok.
Bagaimana Ying Zheng memerintah negara dengan wilayah dan populasi terbesar? Banyak pejabat menyarankannya untuk membagi-bagi tanah dan menyerahkannya kepada para jendral sebagai hadiah, yang akhirnya akan membentuk negara-negara kecil, tetapi Ying Zheng tidak setuju.
Dia adalah kaisar pertama yang menganggap dirinya sebagai Kaisar Tiongkok. Tidak ada gelar itu sebelum dia menciptakannya dan karena itu dipanggil dengan Kaisar Pertama Tiongkok. Dia berharap Qin akan bertahan selamanya, jadi dia menjalankan kebijakan-kebijakan yang memperkuat kekuasaannya.
 
Bagaimana Ying Zheng memerintah negara dengan wilayah dan populasi terbesar? Banyak pejabat menyarankannya untuk membagi-bagi tanah dan menyerahkannya kepada para jendral sebagai hadiah, yang akhirnya akan membentuk negara-negara kecil, tetapi Ying Zheng tidak setuju. Langkah yang ditempuh Ying Zheng:
Pertama, Ying Zheng menganggap dirinya sebagai Kaisar China pertama. Tidak ada gelar itu sebelum dia menciptakannya dan karena itu dipanggil dengan Kaisar Pertama Tiongkok. Dia berharap Qin akan bertahan selamanya, jadi dia menjalankan kebijakan-kebijakan yang memperkuat kekuasaannya.
Kedua, Ying Zheng, yang menjadi Qin Shi Huang meniadakan gelar aristokrat dan mengadopsi sistem politik otoritas terpusat. Ia mendirikan Kabinet di tingkat pemerintah pusat, yang disebut sistem Sembilan Menteri atau Kabinet Sembilan Anggota. Secara lokal, ia mengadopsi sistem kedaerahan yang membagi negara menjadi kabupaten. Semua pejabat ditunjuk langsung oleh kaisar. Kaisar dapat mempertahankan atau mencopot pejabat negara atas kehendaknya.
Ketiga, hukum ketat diberlakukan. Dari pejabat tertinggi sampai strata sosial terendah di seluruh negara, semuanya harus tunduk pada hukum yang keras dan terinci dari Kerajaan Qin. Pelanggar akan dihukum tanpa terkecuali.
Keempat, penulisan huruf di berbagai negara bertikai dipersatukan. Meski karakter China kuno digunakan di berbagai negara, ada variasi dalam guratan atau karakter tertentu. Pemerintahan Qin menetapkan karakter tulisan standar. Guratan Qin yang lebih sederhana menjadi bahasa penulisan resmi, yang digunakan oleh para pejabat dan rakyat.
Kelima, sistem moneter dan pengukuran dipersatukan. Ukuran panjang, volume, mata uang dan bahkan jarak antar roda pedati yang ditarik kuda dipersatukan.
Qin Shi Huang hanya membutuhkan 16 tahun sejak ia naik tahta menjadi Raja Qin hingga ia mempersatukan China. Tentu, pendahulunya telah meletakkan pondasi sebelumnya.
Setelah pemersatuan, Qin Shi Huang sering menjelajah kerajaan barunya, memeriksa wilayah kekuasaannya. Dibangunnya jalan tol yang menuju ke berbagai wilayah di China, yang memungkinkan cepatnya mobilisasi angkatan bersenjatanya. Jalan lebar ini dikatakan sanggup menampung empat kereta kuda secara pararel. Ia dibangun terbentang dari ibukota menuju ke wilayah-wilayah terpencil di perbatasan kerajaannya.
Guna menangkal gangguan dari suku nomad Xungnu di Utara, Qin Shi Huang memerintahkan penyambungan Tembok Panjang sepanjang perbatasan Utara dari berbagai bekas negara bertikai. Garis perbentengan sepanjang lebih dari 3.000 mil, yang sekarang dikenal sebagai Tembok Besar China. Butuh 400.000 buruh muda selama bertahun-tahun untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Sejak itu Tembok Besar diperkuat lebih lanjut oleh generasi selanjutnya dan sekarang lebih tinggi dan kokoh dibandingkan jaman Qin Shi Huang.
Qin Shi Huang terus menyokong para intelektual dan menciptakan posisi doktor resmi bagi mereka. Posisi doktor ini adalah gelaran dan tidak mengemban kekuasaan dan tanggung jawab. Walaupun begitu, menandakan prestasi intelektual mereka, dan setara dengan tingkat PhD modern. Setiap kali ada kekosongan di pemerintahan, para intelektual doktor ini berkemungkinan mengisi posisi itu.
Intelektual ini datang dari berbagai berbagai sekolah yang dikenal sebagai 100 Sekolah, termasuk Taoisme dan Konfusianisme. Beberapa penyihir laki-laki yang mengklaim bahwa mereka dapat menemukan dewa atau mencari resep untuk keabadian. Tidak jarang bahwa para intelektual akan membahas atau bahkan bersengketa atas isu-isu sosial dan politik. Ketika diskusi atau sengketa bertabrakan dengan kebijakan yang ada, Qin Shi Huang akan 'mendiamkan' mereka. Beberapa intelektual doktor akan terus mengkritik kebijakan kontemporer dan urusan politik, yang hanya akan mengakibatkan perintah lebih keras dari Qin Shi Huang.
Pada tahun 213 SM, Qin Shi Huang mengeluarkan perintah untuk mengubur hidup-hidup 460 intelektual doktor. Dia juga memerintahkan penghancuran semua arsip sejarah negara sebelumnya, menyembunyikan karya 100 Sekolah, termasuk sekolah Konfusianisme, dan buku-buku lain dengan pengecualian Arsip Sejarah Qin, buku-buku tentang obat-obatan, meramal, pertanian, salinan Puisi klasik Doktor Nasional dan Sejarah klasik. Dekrit juga dikeluarkan untuk melarang diskusi puisi klasik dan Sejarah klasik untuk menyingkirkan kemungkinan refleksi politik kontemporer melalui diskusi tidak langsung dari peristiwa sejarah. Para pelanggar akan dihukum maksimal sesuai hukum, termasuk dihukum mati.
Kertas belum ditemukan saat itu dan semua buku yang ditulis pada potongan bambu, diikat dengan tali tipis. Pendidikan tidak luas pada waktu itu dan intelektual berpendidikan tinggi sedikit jumlahnya. Akibatnya, pembakaran buku bambu dan penguburan para intelektual dicatat dalam sejarah sebagai gambaran tentang pemerintahan Qin Shi Huang.
Pada 210 SM, Qin Shi Huang sakit sewaktu memeriksa negara. Ia meninggal, sewaktu dipulangkan ke ibukota, pada usai 49.
Inovasi politik setelah penyatuan China oleh Qin Shi Huang menjadi standar model kekuasaan kerajaan bagi generasi berikutnya selama lebih dari 2.000 tahun di China. Bahkan saat ini di China, orang masih melihat warisan Qin dalam Kabinet dan pengaturan di pemerintahan kabupaten. Sayangnya, pembakaran buku-buku dan penguburan para intelektual juga dijalankan, dalam bentuk modern, dalam zaman Internet ini.
Beberapa sinologis berpendapat bahwa sebagian besar intelektual yang dikubur Qin Shi Huang adalah penyihir laki-laki, yang mengaku mereka bisa membuat kaisar berhubungan dengan dewa dan membantunya menemukan resep untuk kehidupan abadi. Arsip sejarah mencatat bahwa empat penyihir seperti itu menghabiskan jumlah uang yang terlalu besar dalam mencari dewa dan kehidupan kekal untuk kaisar. Mereka tidak kembali karena gagal memenuhi janji-janji mereka. Marah oleh kebohongan terang-terangan ini, Qin Shi Huang memerintahkan penguburan hidup-hidup semua penyihir, yang mencapai lebih dari 400.
Salah satu dari empat penyihir yang lolos bernama Xu Fu. Xu memimpin 3.000 anak laki-laki dan perempuan dan berbagai teknologi dan artefak China untuk berlayar ke timur untuk mencari dewa, tapi ia tidak pernah kembali. Menurut catatan di China dan Jepang, Xu tiba di Jepang. Teknologi pertanian dan lainnya yang dibawanya membantu mengakhiri Zaman Batu dan mengantar fase peradaban baru di Jepang.
Dalam dongeng rakyat China kuno, orang-orang mengaitkan Qin Shi Huang sebagai tirani kejam. Para kaisar disarankan oleh para intelektual untuk tidak mencontohnya, meskipun saran ini tidak diperhatikan. Pada saat yang sama, sejumlah intelektual telah mendapatkan pemahaman rasional tentang peran Qin Shi Huang dalam sejarah. Bagaimanapun, kekuasaan kekaisaran tak terbatas, Sembilan Kabinet dan sistem Kabupaten yang diciptakannya dan wilayah taklukan yang besar tak tertandingi berdampak pada pemimpin China generasi selanjutnya yang menggantikannya.
Pekerjaan konstruksi besar, termasuk Tembok Besar China dan Istana Epang yang mewah dan kampanye militer terhadap suku nomad Xungnu di Utara dan leluhur Vietnam di Selatan saat ini, telah menyebabkan Dinasti Qin bangkrut. Orang-orang, yang hidup dalam kemiskinan, juga mengeluhkan tentang aturan keras hukum Qin. Hanya tiga tahun setelah kematian Qin Shi Huang, Dinasti Qin, yang keempat dalam sejarah China, runtuh karena pemberontakan petani di seluruh kekaisaran.

Tentang misteri makam yang di huni oleh 10.000 pasukan patung (terakota) itu... yang notabene si Kaisar pengen jadi raja neraka setelah gagal atas usahanya untuk membuat ramuan abadi (elixir of life) agar menjadikannya manusia yang hidup kekal abadijadi gan.. ane nyimpulin ni Kaisar kelakuannya sama kayak fir'aun jaman dulu... persamaannya:

  • Kaisar bikin "Tembok Besar China ? Great Wall of China" sementara Fir'aun bikin Piramid
  • sama-sama bikin makam yang besar dan penuh misteri
  • sama-sama menelan banyak nyawa dalam melakukan project2 selama pemerintahannya
  • sama-sama keji gan.. dikit2 maen bunuh
  • sama-sama pengen disembah sama rakyat nya.. mengaku sebagai tuhan
  • sama-sama pengen hidup abadiQin Shi Huang

Elixir kehidupan

Belakangan ini dalam hidupnya, Qin Shi Huang takut akan kematiannya dan putus asa mencari obat mujarab dongeng kehidupan, yang seharusnya memungkinkan dia untuk hidup selamanya. Ia terobsesi dengan memperoleh keabadian, dan banyak jatuh korban yang menawarkan ramuan. Ia mengunjungi Pulau Zhifu tiga kali dalam rangka untuk mencapai keabadian.


Kapal Xu Fu berlayar pada 219 SM untuk mencari obat keabadian.
Dalam satu kasus dia mengirim Xu Fu, seseorang dari kepulauan Zhifu, dengan kapal yang mengangkut ratusan anak2 mencari gunung mistik Penglai. Mereka dikirim untuk menemukan Angi Sheng, seorang suci yang berumur 1.000 tahun yang tau resep ramuan hidup abadi. yang konon katanya kl orang suci ini bakal ngilang kalo bertemu orang dewasa, maka dikirimlah anak2. anak2 ini tidak pernah kembali, mungkin karena mereka tahu kalo mereka balik lagi tanpa obat mujarab, mereka pasti akan dieksekusi. Legenda menyatakan bahwa mereka mencapai Jepang dan terjajah itu. Hal ini juga memungkinkan bahwa pembakaran buku, pembersihan pada apa yang bisa dilihat sebagai hal yang sia-sia, sebagian, upaya untuk memfokuskan pikiran kaisar terhadap sarjana dan pada pencarian alkemis. Beberapa sarjana dieksekusi, adalah mereka yang telah mampu menawarkan bukti skema supranatural mereka. Ini mungkin berarti akhir dari pengujian kemampuan mereka: apakah mereka memiliki kekuatan ajaib, maka mereka pasti akan datang kembali ke kehidupan ketika mereka membiarkan keluar lagi. Sejak kaisar agung takut kematian dan, roh jahat, pekerja membangun serangkaian terowongan dan bagian untuk masing-masing istana-nya (lebih dari 200 dimilikinya), karena ini akan membuatnya aman dari roh-roh jahat, saat ia melakukan perjalanan gaib.

Kematian
Dalam 211 SM sebuah meteor besar dikatakan telah jatuh di Dongjun (东郡) di hilir Sungai Kuning. Di atasnya, orang yang tidak dikenal tertulis kata-kata "Kaisar Pertama akan mati dan Kekuasaannya kan terbagi (Terpecah belah)" Ketika kaisar mendengar hal ini, ia mengirim seorang sekretaris kekaisaran untuk menyelidiki hal ini. dan tidak seorang pun akan mengakuinya, sehingga semua orang yang tinggal di dekatnya dihukum mati. Batu metor itu kemudian dibakar dan dihancurkan.

Kaisar meninggal dalam salah satu perjalanannya di Cina Timur, pada 10 September, 210 SM di istana di Shaqiu (沙丘 平台), sekitar dua bulan lagi melalui jalan darat dari ibukota Xianyang. Kabarnya, ia meninggal karena menelan pil merkuri (ni kaisar doyan mabok merkuri ), yang dibuat oleh para ilmuwan dan dokter istana. Ironisnya, pil ini dimaksudkan untuk membuat Qin Shi Huang abadi.
Setelah kematian kaisar Perdana Menteri Li Si, yang menemaninya, menjadi sangat khawatir bahwa berita kematiannya bisa memicu pemberontakan umum di kekaisaran Ini akan memakan waktu dua bulan bagi pemerintah untuk mencapai ibukota, dan tidak akan mungkin untuk menghentikan pemberontakan. Li Si memutuskan untuk menyembunyikan kematian kaisar dan kembali ke Xianyang Sebagian besar rombongan kekaisaran yang bersama kaisar tidak tahu tentang kematian kaisar. Hanya anak muda, Huhai Ying, yang bepergian dengan ayahnya, Zhao Gao kasim, Li Si, dan lima atau enam kasim terdekat yang tahu tentang kematian kaisar. Li Si juga memerintahkan bahwa dua gerobak berisi ikan busuk segera didatangkan sebelum dan setelah kereta kaisar. Ide di balik ini adalah untuk mencegah orang dari memperhatikan bau busuk yang berasal dari kereta kaisar, di mana tubuhnya mulai membusuk parah. Mereka juga ditarik ke bawah tempat teduh sehingga tidak ada bisa melihat wajahnya, mengganti pakaiannya setiap hari, membawa makanan dan ketika ia harus melakukan percakapan penting mereka akan bertindak seolah-olah dia ingin mengirim pesan.

Kedua konspirasi kaisar

Akhirnya, setelah sekitar dua bulan, Li Si dan istana kekaisaran mencapai Xianyang, di mana berita kematian kaisar diumumkan Qin Shi Huang tidak ingin berbicara tentang kematiannya sendiri dan dia tidak pernah menulis. Setelah kematiannya, putra sulung Fusu harusnya menjadi kaisar berikutnya.

Li Si dan kepala kasim Zhao Gao bersekongkol untuk membunuh Fusu karena Jendral yang dekat dengan Fusu adalah Meng Tian, yang tidak mereka sukai dan mereka takuti. Adik Meng Tian, seorang menteri senior, yang pernah dihukum Zhao Gao Mereka percaya bahwa jika Fusu itu bertahta, mereka berfikir akan kehilangan kekuasaan mereka, Li Si dan Zhao Gao menerima surat wasiat (yang telah dirubah oleh Li Si selama dalam perjalanan) dari KaisarQin Shi Huang yang mengatakan bahwa keduanya (Fusu dan Jenderal Meng) harus melakukan bunuh diri.. dan rencana busuk bekerja, dan anak muda menjadi Huhai Kedua Kaisar, kemudian dikenal sebagai Qin Shi Er atau "Generasi Kedua Qin."
Qin Er Shi, bagaimanapun tidak mampu dalam memimpin kekaisaran disebabkan kelemahan atas sikap pengecutnya. Pemberontakan cepat meletus. Masa Pemerintahannya adalah waktu kerusuhan sipil yang ekstrim, dan segala sesuatu yang dibangun oleh Kaisar Pertama hancur dalam waktu singkat Salah satu upaya pemberontakan langsung adalah 209 SM Daze Desa Pemberontakan dipimpin oleh Chen Sheng dan Wu Guang..

Mausoleum Kaisar Pertama 

Makam Qin Shi Huang

Sejarawan Cina Sima Qian, satu abad setelah kematian Kaisar Pertama, menulis bahwa dibutuhkan 700.000 orang untuk membangun itu. sejarawan Inggris John menunjukkan bahwa angka ini lebih besar dari kota-kota dunia pada waktu itu dan menghitung bahwa pondasi-nya saja bisa dibangun oleh 16.000 orang dalam dua tahun. Sementara Sima Qian tidak pernah disebutkan tentara terakota, yang patung-patung itu ditemukan oleh sekelompok petani yang sedang menggali sumur pada tanggal 29 Maret 1974. Para tentara diciptakan dengan serangkaian campuran tanah liat dan diberi sentuhan individual oleh si pemahat. Han Purple juga digunakan pada beberapa prajurit.

Makam Qin Shi Huang




Salah satu proyek pertama nya Kaisar ketika ia masih hidup adalah pembangunan makam sendiri yang berbentuk Piramid. Pada 215 SM Qin Shi Huang memerintahkan Jenderal Meng Tian dengan 300.000 orang untuk memulai pembangunan. Sumber lain menyebutkan ia memerintahkan 720.000 buruh yang belum dibayar untuk membangun makam. Deskripsi Sima Qian makam termasuk replika istana dan menara indah, "benda-benda langka dan peralatan indah", 100 sungai dibuat dengan merkuri, representasi "tubuh surgawi", dan busur dicurangi untuk menembak siapa saja yang mencoba mendobrak masuk Makam itu dibangun di atas gunung Li , yang jaraknya hanya 30 kilometer dari Xi'an. Arkeolog modern telah menemukan makam itu, dan telah melakukan penyelidiknya di dalam nya. hasil penyelidikan menunjukkan bahwa ada jumlah merkuri yang tinggi yang tidak normal, sekitar 100 kali tingkat alami, menunjukkan bahwa beberapa bagian dari legenda yang kredibel. banyak Rahasia dipertahankan, karena kebanyakan dari para pekerja yang membangun makam tewas.
»»  READMORE...