Senin, 25 Februari 2013

Sultan Mehmed II Penakluk Konstantinopel dan Vlad Dracula


Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk manipulasi sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian dihasilkan seolah-olah menjadi tokoh yang nyata oleh Barat, tetapi Dracula merupakan keterbalikannya, tokoh fakta dijadikan fiksi.
 
Diawali dari novel karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, kemudian tokoh ini mulai difilmkan seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoor of of Dracula (1958), Nosferatu (1922) yang dibuat ulang pada tahun 1979 dan film-film dracula yang lain yang dikemas dalam bentuk yang lebih moden seperti Twilight.

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna , kisah Dracula sebenarnya merupakan pembesar Wallachia , berketurunan Vlad Dracul.

Dalam uraian Hyphatia tersebut, kisah Dracula tidak boleh diceritakan paska Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ustmaniyah sebagai wakil Islam, dan Kerajaan Hungary sebagai wakil Kristen.
Keduanya tersebut berusaha menguasai dan merebutkan wilayah-wilayah baik Eropa maupun di Asia . Puncak peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel, yaitu ketika benteng Kristian ada di tangan kekuasaan khilafah Ustmaniyah.


Dalam peristiwa Perang Salib, Dracula merupakan salah seorang panglima tentera Salib. Dalam perang inilah Dracula banyak melakukan pembunuhan terhadap umat Islam. Hyphatia memaparkan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 jiwa umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara yang sangat biadab dan kejam, yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula.
Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang itu ditusuk dubur dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya ditajamkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dimasukan sehingga kayu sula tersebut menembus hingga perut, kerongkongan hingga menembus kepala melalui mulut.
Hyphatia mengatakan dalam bukunya :
“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulakan. Para prajurit melakukan perintah tersebut seolah seperti robot yang telah dipogram. Penyulaan disulami dengan teriakan kesakitan dan jeritan penderitaan yang segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam pada saat itu sedang dijemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”
Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban kekejaman penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:
“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis kerana mereka kesakitan yang amat apabila hujung kayu menembus perut kecilnya. Tubuh-tubuh korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajalnya.”
Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi kerana dua sebab. Pertama, pembunuhan beramai – ramai yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak boleh dihapuskan dari Perang Salib.

Negara – negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi tunggak utama tentera Salib, tidak mau tercoreng wajahnya. Mereka termasuk yang mengutuk dan menentang pembunuhan beramai – ramai oleh Hilter dan Pol Pot, tidak ingin membuka aib mereka sendiri. Dan ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin tampil seperti pahlawan.
Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Walau bagaimana pun kejamnya Dracula, nama baiknya akan selalu dilindungi. Sehingga di Rumania saat ini, Dracula masih dianggap pahlawan. Sebagaimana sebahagian besar sejarah pahlawan – pahlawan pasti akan diambil sebagai superhero dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.
Untuk menutup kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Mereka berusaha agar sejarah jati diri Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui bahwa usaha Barat untuk mengubah sejarah Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil.

Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dengan banyaknya masyarakat, khususnya umat Islam sendiri yang tidak mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Masyarakat umum hanya mengetahui bahwa Dracula adalah merupakan lagenda vampire yang kehausan darah, tanpa mengetahui kisah sebenarnya.
Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah diketahui umum bahawa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak boleh dilepaskan dari dua benda, yaitu bawang putih dan salib.
Konon hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan dikalahkan. Menurut Hyphatia penggunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus jejak sejarah pahlawan mujahid-mujahid Islam dalam perang salib, sekaligus untuk menunjukkan kehebatan mereka.



Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II) dan juga dikenali sebagai Al- Fatih dalam sejarah Islam. Sultan ini merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula, ia adalah seorang yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun barat berusaha memutarbalikkan fakta ini.
Mereka berusaha menciptakan cerita sejarah agar merekalah yang terlihat mengalahkan Dracula. Maka diciptakan sebuah fiksi bahwa Dracula hanya boleh dikalahkan oleh salib. Tujuannya adalah ingin menghilangkan peranan Sultan Mahmud II sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling hebat, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah.
 
 
(Makalah ini disampaikan dalam bedah buku Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib” di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM Oleh: Ragil Nugroho)

Membongkar Sebuah Kebohongan
vlad_tepes_orig_edit-x01

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)-yang dibuat ulang pada tahun 1979-dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.
 
Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?
foto0011

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia , keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman-sebagai wakil Islam-dan Kerajaan Honggaria-sebagai wakil Kristen-semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia . Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel- benteng Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

Impale_large-x01

Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. 

Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab-yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:
impale_3-x01
“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:
“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania , Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Bram Stroker, Pengarang Cerita Dracula
Bram Stroker, Pengarang Cerita Dracula

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat-khususny a umat Islam sendiri-yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka-pahlawan dari pihak Islam-dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.

Sultan Mehmed II (Wikipedia)
Sultan Mehmed II (Wikipedia)

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Utusan Sultan Mehmed II di Kastil Vlad Dracul (Wikipedia)
Utusan Sultan Mehmed II di Kastil Vlad Dracul (Wikipedia)

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.

Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain-politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini-walaupun masih merupakan langkah awal-bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.
 
»»  READMORE...

Sabtu, 09 Februari 2013

Penjelajah Muslim Penemu Benua Amerika Sebelum Colombus

 

Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai ‘The New World’ ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492.

Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah ‘Dunia Baru’. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.

Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus.

Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.

”Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam.

Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.
Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.

Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.

Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya.

Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah

Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?
Sejarahnya panjang, Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.

Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi.

Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.
Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).
Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.

Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid.
Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama.
Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab.

Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

Pengaruh Islam di Benua Amerika
Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut.  Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.

Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?

Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.

Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.

Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba - masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).

Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.

Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika.

Fakta Eksistensi Islam di Amerika
Tahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.

Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). 

Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. 

Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.

Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona - kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.

Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. 

Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. 

Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.

Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika.
Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. “Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara,” papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.

Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]
»»  READMORE...

Kamis, 24 Januari 2013

KEHANCURAN PERADABAN MOHENJO DARO – HARAPPA, INDIA KARENA BANJIR ?


Mohenjo Daro adalah sebuah kota purba yang terkubur lama di lembah Indus, Pakistan sekarang. Kota ini diperkirakan telah muncul sekitar tahun 6000 SM. Sebab-sebab kehancuran pusat peradaban tua yang canggih ini telah diselidiki oleh para ilmuwan. Selain peperangan dan kerusakan lingkungan, bencana banjir disebut-sebut sebagai sebab utama hancurnya peradaban Mohenjo Daro. — with Tandi Skober.


Selain relief gambar kambing, yang dijumpai di dinding bangunan kota Mohenjo Daro adalah relief gambar badak. Tampaknya badak Mohenjo Daro sekeluarga dengan badak Ujung Kulon, Jawa Barat.

Mohenjo-daro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Situs Warisan Dunia UNESCO
Reruntuhan arkeologis Moenjodaro
Nama sebagaimana tercantum dalam Daftar Warisan Dunia
Mohenjo-daro
Negara Pakistan
Tipe Kultural
Kriteria ii, iii
Rujukan 138
Kawasan UNESCO Asia-Pasifik
Sejarah pengukuhan
Tahun pengukuhan 1980 (sesi Ke-4)
Mohenjo-daro bahasa Urdu: موئن جودڑو, bahasa Sindhi : موئن جو دڙو, Bahasa Hindi : मोहन जोदड़ो adalah salah satu situs dari sisa-sisa permukiman terbesar dari Kebudayaan Lembah Sungai Indus, yang terletak di propinsi Sind, Pakistan. Dibangun pada sekitar tahun 2600 SM, kota ini adalah salah satu permukiman kota pertama di dunia, bersamaan dengan peradaban Mesir Kuno, Mesopotamia dan Yunani Kuno. Reruntuhan bersejarah ini dimasukkan oleh UNESCO ke dalam Situs Warisan Dunia. Arti dari Mohenjo-daro adalah “bukit orang mati”. Seringkali kota tua ini disebut dengan “Metropolis Kuno di Lembah Indus”.[1]

Penemuan kembali dan penggalian

Mohenjo-daro dibangun sekitar tahun 2600 SM, tetapi dikosongkan sekitar tahun 1500 SM. Pada tahun 1922, kota ini ditemukan kembali oleh Rakhaldas Bandyopadhyay[2] dari Archaeological Survey of India. Ia dibawa ke sebuah gundukan oleh seorang biksu Budha yang mempercayai bahwa gundukan tersebut adalah sebuah stupa. Pada 1930-an, penggalian besar-besaran dilakukan di bawah pimpinan John Marshall, K. N. Dikshit, Ernest Mackay, dan lain-lain.[3] Mobil John Marshall yang digunakan oleh para direktur situs masih berada di museum Mohenjo-daro sebagai tanda untuk memperingati perjuangan dan dedikasi mereka terhadap Mohenjo-daro. Penggalian selanjutnya dilakukan oleh Ahmad Hasan Dani dan Mortimer Wheeler pada tahun 1945.
Penggalian besar terakhir di Mohenjo-daro dipimpin oleh Dr. G. F. Dales pada tahun 1964-65. Setelah itu, kerja penggalian di situ dilarang karena kerusakan yang dialami oleh struktur-struktur yang rentan akibat kondisi cuaca. Sejak tahun 1965, hanya proyek penggalian penyelamatan, pengawasan permukaan, dan konservasi yang diperbolehkan di situ. Meskipun proyek arkeologi besar dilarang, namun pada 1980-an, tim-tim peninjau dari Jerman dan Italia yang dipimpin oleh Dr. Michael Jansen dan Dr. Maurizio Tosi, menggabungkan teknik-teknik seperti dokumentasi arsitektur, tinjauan permukaan, dan penyelidikan permukaan, untuk menentukan bayangan selanjutnya mengenai peradaban kuno tersebut.[4]

Lokasi

Mohenjo-daro terletak di Sindh, Pakistan di sebuah bubungan zaman Pleistosen di tengah-tengah dataran banjir Sungai Sindhu. Bubungan tersebut kini terkubur oleh pembanjiran dataran tersebut, tetapi sangat penting pada zaman Peradaban Lembah Indus. Bubungan tersebut memungkinkan kota Mohenjo-daro berdiri di atas dataran sekelilingnya. Situs tersebut terletak di tengah-tengah jurang di antara lembah Sungai Sindhu di barat dan Ghaggar-Hakra di timur. Sungai Sindhu masih mengalir ke timur situs itu, tetapi dasar sungai Ghaggar-Hakra kini sudah kering.[5]
Pembangunan antropogenik selama bertahun-tahun dipercepat oleh kebutuhan memperluas tempat. Bubungan tersebut diluaskan melalui platform bata lumpur raksasa. Akhirnya, penempatan tersebut meluas begitu besar sehingga ada bangunan yang mencapai 12 meter di atas permukaan dataran masa kini.[6]

Kepentingan

Pada zaman dahulu, Mohenjo-daro merupakan salah satu pusat administratif Peradaban Lembah Indus kuno.[7] Pada puncak kejayaannya, Mohenjo-daro adalah kota yang paling terbangun dan maju di Asia Selatan, dan mungkin juga di dunia. Perencanaan dan tekniknya menunjukkan kepentingan kota ini terhadap masyarakat lembah Indus.[8]
Peradaban Lembah Indus (c. 3300-1700 SM, f. 2600-1900 SM) adalah sebuah peradaban sungai kuno yang berkembah di lembah sungai Indus di India Kuno (kini di Pakistan dan India Barat Laut). Peradaban ini juga dikenal sebagai “Peradaban Harappa.”
Kebudayaan Indus berkembang berabad-abad lamanya, lalu mengalami kebangkitan sekitar tahun 3000 SM. Peradaban tersebut menjangkau wilayah yang kini diduduki negara Pakistan dan India Utara, tetapi tiba-tiba mengalami kemerosotan sekitar tahun 1900 SM. Pemukiman Peradaban Indus tersebar sejauh pantai Laut Arab di Gujarat di selatan, perbatasan Iran di barat, dengan kota perbatasan di Bactria. Di antara permukiman-permukiman itu, pusat kota utama berada di Harappa dan Mohenjo-daro, dan juga Lothal.
Puing-puing Mohenjo-daro adalah salah satu pusat utama dalam masyarakat kuno ini. Beberapa arkeolog berpendapat bahwa Peradaban Indus mencapai jumlah lima juta penduduk pada puncaknya.
Saat ini, lebih dari seribu kota dan permukiman telah ditemukan, terutama di lembah Sungai Sindhu di Pakistan dan India barat laut.

Arsitektur dan prasarana kota

Mohenjo-daro, 25 km di barat dayaLarkana, adalah pusat Peradaban Lembah Indus 2600 SM-1900 SM
Mohenjo-daro memiliki bangunan yang luar biasa, karena memiliki tata letak terencana yang berbasis grid jalanan yang tersusun menurut pola yang sempurna. Pada puncak kejayaannya, kota ini diduduki sekitar 35.000 orang. Bangunan-bangunan di kota ini begitu maju, dengan struktur-struktur yang terdiri dari batu-bata buatan lumpur dan kayu bakar terjemur matahari yang merata ukurannya.
Bangunan-bangunan publik di kota ini adalah lambang masyarakat yang sangat terencana. Bangunan yang bergelar Lumbung Besar di Mohenjo-daro menurut interpretasi Sir Mortimer Wheeler pada tahun 1950 dirancang dengan ruang-ruang untuk menyambut gerobak yang mengirim hasil tanaman dari desa, dan juga ada saluran-saluran pendistribusian udara untuk mengeringkannya. Akan tetapi, Jonathan Mark Kenoyer memperhatikan bahwa tidak ada catatan mengenai keberadaan hasil panen dalam lumbung ini. Maka dari itu, Kenoyer mengatakan lebih tepat untuk menjulukinya sebagai “Balai Besar”.
Di dekat lumbung tersebut ada sebuah bangunan publik yang pernah berfungsi sebagai permandian umum besar, dengan tangga yang turun ke arah kolam berlapis bata di dalam lapangan berderetan tiang. Wilayah permandian berhias ini dibangun dengan baik, dengan lapisan tar alami yang menghambat kebocoran, di samping kolam di tengah-tengah. Kolam yang berukuran 12m x 7m, dengan kedalaman 2.4m ini mungkin digunakan untuk upacara keagamaan atau kerohanian.
Di dalam kota, air dari sumur disalurkan ke rumah-rumah. Beberapa rumah ini dilengkapi kamar yang terlihat ditetapkan untuk mandi. Air buangan disalurkan ke selokan tertutup yang membarisi jalan-jalan utama. Pintu masuk rumah hanya menghadap lapangan dalam dan lorong-lorong kecil. Ada berbagai bangunan yang hanya setinggi satu dua tingkat.
Sebagai kota pertanian, Mohenjo-daro juga bercirikan sumur besar dan pasar pusat. Kota ini juga memiliki sebuah bangunan yang memiliki hypocaust, yang kemungkinan digunakan untuk pemanasan air mandi.
Mohenjo-daro adalah sebuah kota yang cukup terlindungi. Walau tak ada tembok, namun terdapat menara di sebelah barat pemukiman utama, dan benteng pertahanan di selatan. Perbentengan tersebut, dan struktur kota-kota lain di Lembah Indus seperti Harappa, menimbulkan pertanyaan apakah Mohenjo-daro memang pusat administrasi. Harappa dan Mohenjo-daro memiliki arsitektur yang mirip, dan tidak berbenteng kuat seperti situs-situs lain di Lembah Indus. Jelas sekali dari tata ruang di semua situs-situs Indus, bahwa ada suatu pusat politik atau administrasi, hanya saja tidak jelas lagi sejauh mana jangkauan dan fungsi pusat administrasi tersebut.
Mohenjo-daro telah dimusnahkan dan dibangun kembali setidaknya tujuh kali. Setiap kali, kota baru dibangun terus di atas kota lama. Banjir dari Sungai Indus diduga menjadi penyebab utama kerusakan.
Kota ini terbagi atas dua bagian, yaitu benteng kota dan kota hilir. Kebanyakan wilayah kota hilir masih belum ditemukan. Di benteng kota terdapat sebuah permandian umum, struktur perumahan besar yang dirancang untuk menempatkan 5.000 warga, dan dua buah dewan perhimpunan besar.
Mohenjo-daro, Harappa dan peradaban masing-masing, lenyap tanpa jejak dari sejarah sampai ditemukan kembali pada 1920-an. Penggalian besar-besaran dilakukan di situ pada 1920-an, namun tidak ada penggalian secara mendalam yang dilakukan lagi sejak tahun 1960-an.
Artefak “gadis menari” yang ditemukan di Mohenjo-daro
Patung “raja pendeta”

Artefak

Patung “gadis menari” yang ditemukan di Mohenjo-daro adalah sebuah artefak yang berusia sekitar 4500 tahun. Patung perunggu dengan panjang 10.8 cm ini ditemukan di sebuah rumah di Mohenjo-daro pada tahun 1926. Patung kecil ini adalah patung favorit arkeolog Inggris Mortimer Wheeler, seperti yang dipetik dari sebuah acara televisi tahun 1973:
“Muka kecilnya gaya Balochi dengan bibir yang cemberut dan paras yang terlihat tidak sopan. Saya rasa umurnya tak lebih lima belas tahun, tetapi tidak memakai apa-apa selain gelang di lengan. Seorang gadis yang benar-benar percaya diri terhadap dirinya dan dunianya. Saya rasa patung ini tidak ada duanya di dunia ini. “
John Marshall, salah seorang penggali di Mohenjo-daro, menggambarkan gadis tersebut sebagai kesan jelas seorang gadis muda, berpostur kurang sopan dengan sebelah tangan mencekak pinggul, sambil mengikuti rentak musik dengan tangan dan kaki.[9]
Sebuah patung lelaki duduk dengan tinggi 17.5 cm yang bergelar “Raja Pendeta” (walaupun tiada bukti pendeta atau raja memerintah kota ini), adalah satu lagi artefak yang menjadi lambang peradaban lembah Indus. Patung ini ditemukan oleh para arkeolog di Kota Hilir Mohenjo-daro pada tahun 1927. Patung tersebut ditemukan di sebuah rumah yang arsitektur batanya berhias dan berceruk dinding, terlantar di antara dinding dasar bata yang pernah menampung tingkat rumah. Patung berjanggut ini memakai pita rambut, lilitan lengan, dan mantel berhias pola trefoil yang aslinya berisi pigmen merah. (Profil patung ini mirip dengan patung serupa yang ada di candi Cetho di Jawa tengah. AYS)

Status UNESCO

Pemeliharaan Mohenjo-daro ditunda pada Desember 1996 setelah berhentinya pendanaan dari pemerintah dan organisasi internasional. Pada April 1997, Organisasi Pendidikan, Sains dan Kebudayaan PBB (UNESCO) membiayai proyek $10 juta untuk perlindungan situs dan struktur-struktur yang masih bertahan dari banjir selama 20 tahun.
 
Harappa & Mohenjo-daro
Berdasarkan penelitian oleh Sonia SaleemHarappa atau "Hari-Yupuya" sebagaimana disebutkan dalam "Rig Veda" menandai ketinggian pembangunan perkotaan dari peradaban lembah Indus pada 2600 SM sampai 1.900 SM selama 700 tahun. Harappa terletak di provinsi Punjab hari ini, dekat kota Sahiwal, dan dalam kemuliaan penuh adalah proto tipe sempurna dari sebuah kota yang sepenuhnya dikembangkan dari peradaban lembah Indus. Itu adalah refleksi sempurna dari jenis pemikiran yang terorganisir Rig Veda ditekankan. [Wheeler, Kenoyer].

 
 
Harappa memiliki awal yang sederhana sama seperti kota besar lainnya. Ini dimulai sebagai sebuah pemukiman desa, secara bertahap berkembang selama berabad-abad untuk mengakomodasi industri kerajinan terkenal, pasar dunia dapat diakses, dan daerah pemukiman bersih dan pemakaman. Harappa adalah 128.800 pedalaman, dan 150 hektar di daerah. Harappa kota begitu dikembangkan dan pusat Kekaisaran Indus bahwa nama Harappa menjadi identik dengan budaya yang dominan pada saat itu, diikuti oleh semua kota-kota lain di wilayah Indus, sampai ke Kutch di pantai di India hari ini. [Rehman, Kenoyer]. Oleh karena itu, reruntuhan Harappa tiga mil di lingkar. Reruntuhan kota ini dibagi ke dalam gundukan, berlabel dari gundukan A, ke G oleh arkeolog, membuat poin mudah diidentifikasi. Gundukan yang umum untuk semua kota Indus, dan tinggi gundukan itu, daerah yang lebih sentral dan penting berada di kota. Misalnya gundukan benteng hampir selalu gundukan tertinggi. Ini pola dasar Indus Kota dibangun pada sumbu timur-barat, utara-selatan, dan dikelilingi oleh empat tembok kota dengan gerbang pintu masuk besar di dinding barat. Gerbang adalah 2,8 meter, dan 3 sampai 4 meter, [Kenoyer], tetap dengan kamar atau melihat keluar tulisan di atas. [Kenoyer]. Di dalam gateway ada ruang besar untuk pasar sehingga memudahkan barang yang akan diangkut dalam dan diperiksa, pajak dan dijual. The Ox dan keranjang adalah metode yang digunakan untuk mengangkut barang-barang, dan pintu masuk itu hanya cukup besar untuk memungkinkan satu keranjang masuk dan keluar pada suatu waktu. Setelah masuk pintu gerbang kota, dan melewati ruang pasar, jaringan jalan menuju ke pusat kota. Jalan utara menyebabkan semua lokakarya shell dan batu akik, memimpin jalan barat ke tembaga-kerajinan lokakarya. Bukti dari caravanserai ditemukan di luar, dan selatan dari gerbang utama kota. Isinya rumah, saluran air, mandi, wel, l dan kandang untuk kuda. [Kenoyer 55].

 
 
Itu benar-benar berhenti dan akomodatif untuk bepergian pedagang dan pedagang, seperti Harappa merupakan bagian integral dari rute perdagangan kuno. Pedagang justru membantu infrastruktur-berkembang di wilayah tersebut. Kenoyer menyebutkan bahwa jalan modern yang digunakan di luar kini gerbang kota, dekat lokasi lama yang caravanserai berada dalam semua kemungkinan ditata 4500 tahun yang lalu oleh pedagang Harappa. Ini caravanserai digunakan untuk transfer pos sepanjang rute juga, melayani Lahore dan Multan. Ini caravanserai disimpan dalam penggunaan selama ribuan tahun kemudian oleh pedagang bepergian, sekali lagi memverifikasi fakta bahwa kota Harappa terletak di posisi strategis untuk jalur perdagangan.Sebuah gerbang kedua terletak 200 meter sebelah timur dari yang pertama. Gerbang ini memimpin ke pinggiran kota yang juga menghasilkan ornamen, kerajinan dan artefak lainnya untuk perdagangan. Gerbang ini juga memiliki caravanserai sekitar 50 meter selatan luar, untuk mengakomodasi para pedagang yang datang ke ini bagian dari kota. [Kenoyer 55].Tidak ada bukti dari istana atau residensi besar untuk seorang raja atau penguasa di pusat kota. Namun ada sebuah bangunan besar di antara rumah-rumah yang terlihat banyak di pinggiran utara kota. Tetapi berpikir bahwa itu adalah gudang, karena ada banyak pekerjaan melingkar-platform di mana kerajinan kerja, dan keramik dibuat. [Kenoyer 55]. Menurut peta Harrapa, yang dibuat oleh Sir Mortimer Wheeler, selain itu carvanserai, lumbung, kuburan, dan tempat para pekerja itu berada di luar tembok kota. Dari peta itu juga tampaknya seperti dinding barat terdapat sebagian besar gerbang diakses ke kota, serta pintu masuk utama. Perluasan Harappa adalah bertahap, dan pendatang dari kota-kota lain, dan bangsa-bangsa yang tidak biasa. Namun satu budaya dominan di Harappa, dan pada kenyataannya Harappa budaya mendominasi sisa kota-kota juga. Hal ini memastikan perdamaian dan harmoni di seluruh wilayah Indus. Bahkan sebelum Harappa menjadi episentrum budaya, kedamaian dan harmoni mendominasi wilayah Indus. Non-kekerasan, bahkan dalam bentuk pertahanan diri, merupakan bagian dari agama Indus, sehingga semua invasi atau migrasi tidak menolak, juga tidak ada bentrokan antara suku. Gerbang kota tidak dibangun untuk melawan segala jenis serangan militer, tidak pula dinding yang dibuat untuk membela diri. Dinding sekitar gundukan dengan di kota hanya dibatasi daerah yang berbeda. [Kenoyer 56]. Sebuah ancaman perang itu bahkan tidak ide atau pemikiran di lembah Indus. Sebuah budaya yang seragam disebarkan kedamaian. Kota ini melayani khusus untuk kelancaran perdagangan, dan bisnis, yang lain integral dari agama Indus.

Mohenjo-daroMohenjo-daro, atau "Mound of the Dead" diduga sama dibangun untuk Harappa karena semua kota Indus memiliki sebuah Veda desain umum mencerminkan, terorganisir berpikir. Hal ini juga dapat membanggakan untuk menjadi kota pertama di dunia yang memiliki sistem penuh pengeringan. Sebuah sistem pengeringan yang luas untuk seluruh kota ditemukan di tanah Indus.

 
 
Kota Mohenjo-daro adalah 169.260 km persegi pedalaman, dan 250 hektar. [Kenoyer]. Hal ini juga menunjukkan bahwa Mohenjo-daro lebih tua dari Harappa. Namun, sisa-sisa Mohenjo-daro tidak semua lengkap karena mereka berada di tempat digali dari Harappa. Tidak ada sisa-sisa fisik dinding dan gateway, tetapi ukuran dasar dari tembok yang mengelilingi kota menunjukkan bahwa dinding itu mungkin megah daripada Harappa. Mohenjo-daro sering dikunjungi oleh banjir, yang merupakan alasan utama mengapa tidak berkembang dengan cara yang sama bahwa Harappa lakukan, dan mungkin penyebab kehancuran utamanya. Benteng timur pada waktu itu terletak sangat dekat dengan Sungai Indus. Banjir di wilayah ini masih menjadi perhatian dan masalah, meskipun cabang terdekat dari sungai telah bergeser 3 mil jauhnya di sebelah timur. [Wheeler].Sebuah stupa Buddha dan biara ditemukan di atas benteng Barat, dan dibangun di sana beberapa abad setelah runtuhnya peradaban Indus, di 200 SM Antara kematian lengkap dari peradaban Indus, dan penyebaran agama Buddha, ada kota lain sebesar Mohenjo-daro ada di wilayah ini. Mohenjo-daro dengan demikian dibangun sebagai grid, diselenggarakan pada sumbu utara-selatan, timur-barat. Ini dibangun sebagai lereng, jelas untuk melawan banjir. Benteng Barat adalah gundukan tertinggi, yang secara bertahap berlari timur, membuat benteng timur gundukan terendah. Serupa dengan Harappa, gundukan tertinggi menandai bagian, lebih penting pusat kota, di mana pejabat dan penguasa hidup, dan mungkin merupakan hub untuk perdagangan di ini bagian dari Kekaisaran Indus.Harappa dan Mohenjo-daro adalah ibukota mengutip dari peradaban Indus, namun Sungai Indus bukanlah cara air-satunya yang termasuk dalam peradaban ini. The Ghaggar-Hakra Sungai adalah sungai lainnya makan peradaban Indus lembah, tapi mengering selama berabad-abad untuk menjadi gurun Cholistan. Itu berlari melalui bidang Punjab dan Sindh hari ini, paralel dan timur Indus. Ibukota, dan kota-kota Ganweriwala, Rakhigarhi, yang terletak di titik-titik yang berbeda dari tepi Indus, fundamental untuk menjadi bagian dari rute perdagangan. Dua yang terakhir hanya mencakup 80 hektar di daerah masing-masing, tetapi sama pentingnya untuk perdagangan. Dholavira menutupi 100 hektar di daerah, dan yang paling terjauh dari pusat, tetapi terletak di Rann of Kutch, yang sekarang hari Gujarat India sekarang. Oleh karena itu menjabat sebagai dasar yang baik untuk impor dan ekspor barang-barang di luar Laut Arab, dan ikan, dan kerang laut ditemukan disediakan dan disalurkan sekitar peradaban Indus. Kota-kota yang lebih kecil dibangun banyak dalam grid, terorganisir sama seperti cara sebagai ibukota. Indus arsitektur dapat didefinisikan sebagai logis, rapi, fungsional, sederhana, dan berusaha untuk ketertiban dan organisasi. [Kenoyer, Wheeler]. Agama dan perdagangan rute yang jelas inti dan inti dari keberadaan kota-kota ini."Hidup adalah satu proses panjang mulai lelah." [Samuel Butler.] Pergeseran wilayah kebudayaan Indus ke wilayah Gangga;.Semua hal, besar atau kecil harus berakhir. Sebuah peradaban besar, berkembang, dan damai seperti peradaban Indus mengejutkan tidak berakhir. Diperkirakan bahwa perubahan lingkungan, dan pergeseran lempeng tektonik di bawah bumi membantu dalam kehancurannya. Sebab-sebab alamiah menunjukkan evolusi, perubahan bertahap lambat dan stabil dari pusat perdagangan perdagangan pergeseran timur ke sistem air utama di benua sub-. Seluruh peradaban bergeser timur, dan selatan.Menurut Sir Mortimer Wheeler, penyebab pastinya ambigu. Dia mengatakan "Over-ambisius perang, invasi barbar, intrik dinasti atau kapitalistik, iklim, nyamuk malaria telah mendesak beberapa kali dalam satu konteks atau lain sebagai penyebab over-semua." [126, Wheeler.] Jadi tidak ada satu alasan untuk runtuhnya peradaban Indus. Mungkin itu aman untuk mengatakan bahwa sebagai sebuah peradaban yang menggambarkan populasi, itu tidak benar-benar kematian, tapi pindah. Sebagai ras, peradaban Indus masih hidup, dan telah berkembang, dan orang-orang yang dikenal sebagai hari Pakistan. Sebuah sejarah peradaban Indus sebagai ras adalah sejarah pergeseran dan perubahan, namun perubahan bertahap dan evolusi, bukan pergolakan dramatis atau revolusi. Orang-orang Indus tidak mati. Mereka hanya cukup bergerak di sekitar benua sub-besar karena kondisi lingkungan yang tidak dapat dihindari. Dan sejak saat invasi Arya, bermain antar-dengan pedagang dari seluruh Teluk dan Mesopotamia, dan sisanya dari benua sub-, lembah Indus ras selalu mengalami perubahan. Ini adalah daerah yang terutama menyambut pengaruh asing, untuk hubungan dagang yang kuat. Pembauran ras dan pengaruh asing adalah fitur alami dari lembah Indus peradaban SM Vedisme dikembangkan dengan Arya seru, yang akhirnya berkembang menjadi Brahamism, Jainisme, dan Buddhisme. Perdagangan membuat wilayah Indus yang terkenal, dan menarik bagi orang asing. Sebuah sejarah wilayah Indus adalah sejarah invasi.Sebagai Kekaisaran, sebagai kekuatan geo-ekonomi yang fantastis, tua, dan mengakar, peradaban Indus lembah itu berakhir. Mohenjo-daro adalah di semua kemungkinan bernama "Mound orang mati", karena itu adalah sebuah kota yang terus-menerus banjir, menyebabkan kerusakan reoccurring dan rekonstruksi. Ada titik di mana penduduk pikir itu bijaksana untuk bergerak pada akhirnya, bukan merekonstruksi. Banjir yang sesering tahunan, Sungai Indus akan membengkak setiap tahun karena hujan dan salju mencair. Ini secara bertahap menjadi semakin tidak diinginkan, dan benar-benar tidak aman dihuni. Bukti banjir ekstrem masih jelas sebagai lumpur-liat deposito berbaring di seluruh kota, di atas puing-puing pada saat penggalian nya. Di bawah lumpur massa tanah liat yang dikubur lapis demi lapis platform bata yang di atasnya penduduk kota terus membangun kembali rumah-rumah dan toko mereka setelah banjir baru-baru ini. [Wheeler]. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr Dales pada tahun 1960, perdagangan laut benar-benar berhenti di sepanjang Pantai Makran dengan Teluk Persia sekitar 1900 SM karena sering banjir kehancuran membuat Mohenjo-daro tidak layak untuk perdagangan internasional, dan pasar. Ini berarti bahwa kematian Mohenjo-daro tak terelakkan. [Wheeler]. Bahkan penduduk kota yang mampu bergerak dan membangun kembali kehidupan mereka di kota-kota lain telah menemukan lebih layak untuk meninggalkan, akibatnya mengubah kota yang makmur dari Mohenjo-daro in ke kumuh putus asa. Fokus perdagangan sehingga bergeser ke Harappa dan Rann of Kutch dan perkotaan kota Dholavira menjadi jalur laut untuk perdagangan Persia. Harappa Keberhasilan itu dengan demikian juga tak terelakkan.Harappa tidak kematian sebagai sebuah kota, seperti bencana alam tidak memukul jalan. Namun, pentingnya Harappa sebagai ciri khas budaya Indus melakukan pergeseran.Hal ini disebutkan di atas berulang kali bahwa budaya Harappa mendefinisikan budaya Indus secara keseluruhan, dengan 2.600 SM dan seterusnya. Periode ini ditandai dengan puncak kesuksesan wilayah Indus sebagai peradaban yang maju, dan progresif. Namun 1.900 SM dan seterusnya melihat pergeseran bertahap dari pusat teritorial budaya dari wilayah Indus ke tengah, wilayah Sungai Gangga. Hal ini juga dikenal sebagai fase akhir Harappa. Kebudayaan Indus, juga dikenal sebagai budaya Harappa bergeser panjang dengan rakyatnya, memberikan ruang untuk itu untuk berkembang menjadi sebuah peradaban baru, dengan mengumpulkan keyakinan baru. Harappa kesatuan rusak ke terfragmentasi, masyarakat kecil, menyebar-keluar sejauh Afghanistan, dan Asia Tengah di utara-barat, dan Gangga-Yamuna Rivers di selatan-timur. Peluang biaya? Atau hanya kesempatan yang polos? Buddhisme berkembang sekitar 600 SM dan menyebar meskipun-out benua sub-, sementara terus mendukung pentingnya perdagangan. Kebanyakan pedagang dan pedagang adalah Buddha, sebagai sistem pengetahuan yang percaya pada kesetaraan, yang bertentangan dengan tradisi Arya hirarki sosial. Rute perdagangan sehingga menyebar, sehingga invasi lebih, pergolakan politik lebih besar, lebih banyak perdagangan, migrasi lebih, dan penyebaran agama Buddha. Caravanserais Kebanyakan juga vihara, di mana Buddha biarawan siap melayani pedagang bepergian lelah oleh 300-200 SM Alexander Agung tiba di 326 B.C.E. hanya untuk memulai era baru kebudayaan yang merupakan campuran budaya Yunani dan Buddha yang dikenal sebagai budaya Ghandara. Kebudayaan Indus telah berevolusi ke sekolah lebih matang pemikiran, serta berpegang pada pentingnya perdagangan, dan lebih menyebar luas. Ini memungkinkan untuk pengembangan daerah, seperti Gujurat, dan sistem air lainnya, seperti The Yamuna-Ganga sistem dengan yang termasuk dalam rute perdagangan yang pernah berkembang. [Kenoyer].Kota-kota kecil dan desa-desa lainnya di seluruh wilayah Indus Almarhum hanya karena pergeseran ke arah sungai besar, menyebabkan tempat tidur sungai paling untuk mengering sepenuhnya. Ini pembangunan pertanian kiri di pit. Orang-orang harus bergerak ke timur. Selain perdagangan, dan pertanian, Indus seni dan kerajinan praktik juga tetap hidup. Teknologi tembikar berkembang, dan melihat lebih banyak hewan yang termasuk dalam pot ini untuk dekorasi. Ini menjadi mudah untuk mengatakan seberapa jauh budaya Indus menyebar dan berkembang. [Kenoyer].Ini tradisi baru kemudian dikenal sebagai tradisi Indo-Gangga, link yang sangat berharga yang telah menentukan jalannya sejarah melalui-out benua sub-, dan masih mendefinisikan budaya kedua daerah saat ini. Link ini menandai tingkat baru pembangunan bagi masyarakat menetap oleh SM 300 Namun, itu adalah jenis baru pembangunan yang melihat munculnya negara-kota kecil dijalankan oleh monarki, tentara, logam senjata yang digunakan untuk pertempuran, kuda kereta bukan sapi-menarik yang, dan tentu saja, politik menjadi permainan kekuasaan.Hubungan Indo-Gangga unarguably mendefinisikan suasana main-stream budaya Pakistan hari ini. Ini secara intrinsik link teritorial; orang-orang dari Sungai Indus didirikan dengan Sungai Ganga, keluar dari naluri manusia semata-mata untuk bertahan hidup. Peradaban Indus lembah kematian tidak secara keseluruhan. Ini kehilangan bagian dari dirinya sendiri dalam bentuk kota Mohenjo-daro, serta kota-kota kecil di selatan, dan perdagangan di sepanjang pantai Teluk Makran. Tapi dengan menggeser timur, memperoleh sistem lain air yang membantu mengembangkan budaya Indus lembah, pemikiran, agama, dan perdagangan. Sejarah kebudayaan Indus adalah sejarah pergeseran teritorial. Ini naturalizes gagasan dari beraneka ragam suku, tidak hanya yang ada bersama-sama, tapi antar-peternakan untuk membuat etnis baru. Semua ini telah terjadi selama 5000 tahun, dan dalam satu lahan. Untuk mengabaikan hal ini, adalah untuk mengabaikan sejarah dasar budaya kami. Budaya kita adalah budaya asli berdasarkan lanskap kami berubah. Orang-orang dari Indus mempengaruhi wilayah Sungai Gangga terutama, dan bukan sebaliknya. Budaya yang dipraktekkan saat ini adalah budaya yang telah dipraktekkan selama berabad-abad di lembah Indus. Adalah aman untuk mengatakan bahwa sejarah benua sub-dimulai di wilayah Indus.
»»  READMORE...